“ORANG TUA OVERPROTEKTIF pada kasus anak tunggal”

Posted: October 30, 2009 in article
Tags: ,

radith and biyan bakalan ngobrolin…

“ORANG TUA OVERPROTEKTIF pada kasus anak tunggal”

Cerita Seorang Anak Tunggal

Anak tunggal? Pasti kalo denger kata ini, kebanyakan orang langsung ngejawab Manja !!! Apa iya anak tunggal itu pasti identik dengan manja? Well…..’ga salah juga sih, soalnya emang ada beberapa anak tunggal yang punya sifat manja. Tapi biar gitu ‘kan ‘ga semuanya anak tunggal itu pasti manja.
Kedengarannya emang enak banget ya jadi anak tgl, karena pasti kalo mau minta apa2 langsung dikasih. Eitss…..salah banget tuh. Apapun yang diminta belum tentu langsung dikasih lho.

Kadang gw harus bikin prestasi dulu baru dikasih, itu aja juga sering2 banget. Uang bulanan? Jangan dikira juga banyak. Tapi biar gitu tetep lumayan lah…… Kalo uang bulanan habis, gw juga ‘ga pernah langsung minta duit lagi. ‘Ga tau kenapa gw orangnya emang ‘ga pernah bisa minta duit gitu, kalopun minta duit ya paling2 buat bayar kuliah. ‘Bis gw berprinsip kalo uang bulanan yang uda dikasih itu mau ‘ga mau, bisa ‘ga bisa, harus dapat mencukupi semua kebutuhan gw selama 1 bulan!!! Sebenernya bisa aja sih gw minta2 gitu, tapi gw ‘ga tega. Gimana ya, ‘ga enak aja gitu ‘ma ortu. Kasian lah, bokap ‘da kerja banting tulang gitu, eh anaknya malah foya2 ngabisin duit…..

Soal manja sendiri, percaya ‘ga percaya, gw sama sekali ‘ga manja. ‘Ga 100% mutlak juga, tapi yah emang gw bukan tipikal anak tunggal yang manja gitu. Mungkin karena didikan dari ortu, terutama bokap, bikin gw jadi keras, ambisius, ‘n mandiri banget!. Keras di sini dalam arti kalo punya pendapat ato apa gw termasuk keras kepala. Keras juga berarti gw adalah cewe’ yang sangat2 berprinsip. Istilahnya tegas banget lah…. Ambisius bukan berati menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, tapi selalu berusaha untuk ngedapetin apa yang gw mau. Istilahnya lagi, ‘ga bakalan nyerah ato ngalah sebelum yakin emang ‘ga bisa….. Nah kalo mandiri, wah independen banget de…. Apa2 selalu ngelakuin sendirian. Prinsip gw “selama masih bisa dilakukan sendiri, pantang minta tolong ‘ma orang lain”. Bukan berati ‘ga butuh orang lain lho, gw jelas masih butuh bantuan orang lain, tapi selama itu ‘ga ngerepotin orang lain, gw pikir mendingan gw lakuin sendirian aja de…… males banget tau kalo ampe ngerepotin orang lain segala…….

Yah selama menjadi anak tunggal ini, uda banyak suka dan duka tyang gw alamin. Dari luar keliatannya emang enak banget, tapi jujur aja ni, ngejalaninnya itu yang susah banget. Anak tunggal itu kan harapan ortu, jadi gw harus bisa nunjukkin kalo gw emang bisa jadi anak kebanggaan kedua orang tua gw….. Bikin ortu bangga ‘n ‘ga nyesel yang uda ngelahirin, ngedidik, ngasi makan, ngasi minum, beliin baju, sepatu, tas, ngasi tempat tinggal, nyekolahin, ngebiayain hidup gw selama ini……… Beban banget emang, karena kalo ampe gw gagal, pasti ortu bakalan malu ‘n sedih banget….. jadi ya ‘ga gampang de jadi anak tunggal….. punya tanggung jawab yang lumayan gede….. Beda dengan anak2 lain yang punya 3 ato 5 bersodara. Kata bokap gw nih, kalo anak pertama gagal, masih ada anak kedua, ketiga, dan seterusnya. Nah kalo anak tunggal gagal, siapa lagi yang mau dibanggain???

So…..kalo pernah ada bilang jadi anak tunggal itu enak banget. Hmm……salah besar tu…..di satu sisi mungkin enak, tapi di sisi lain, ada harapan ‘n tanggung jawab yang cukup besar yang dibebankan oleh ortu ke kita…..
=============================================

Menepis Mitos Si Anak Tunggal
By Republika Newsroom

Rabu, 14 Januari 2009 pukul 16:50:00

JAKARTA– Berbagai alasan yang dapat menyebabkan sebuah keluarga hanya memiliki seorang anak. Mulai dari tingginya angka perceraian, ketidaksuburan, terlambatnya usia wanita berkeluarga dan meningkatnya angka wanita bekerja seringkali mempengaruhi sebuah keluarga hanya memiliki satu orang anak.

Banyak mitos didalam masyarakat yang sering memojokkan anak tunggal sebagai pribadi yang menyulitkan. Padahal belum tentu mitos tersebut benar. Psikolog Sosial Susan Newman, Ph.D. yang mengajar di Rutgers University in New Jersey sekaligus penulis dari dua belas buku termasuk buku laris Parenting an Only Child: The Joys and Challenges of Raising Your One and Only, berusaha mengungkapkan beberapa mitos mengenai anak tunggal yang tidak selalu benar.

Susan memaparkan, beberapa mitos dalam masyarakat yang mengatakan bahwa anak tunggal akan menjadi anak yang manja, kesepian atau egois, tidak memiliki dasar ilmiah.

“Hal yang menentukan lebih kepada pola pengasuhan orangtua dibandingkan jumlah saudara yang dimiliki, yang akan mempengaruhi bagaimana kepribadian anak tunggal atau anak manapun,” tegas Susan.

saat seseorang mengatakan orangtua harus memiliki anak lebih dari satu, tambah Susan, maka mereka harus mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai anak tunggal dan mitos yang seringkali tidak dapat dibuktikan kebenarannya di lingkungan mereka.

Beberapa fakta itu dibuktikan berdasarkan penelitian terbaru dalam beberapa tahun terakhir ini, yaitu:

• Mitos 1: Anak tunggal adalah anak yang agresif dan suka memerintah.

Fakta: anak tunggal bisa belajar cepat karena bernafsu untuk menjadi tokoh utama, sebagai kebiasaan yang mungkin terbawa dari rumah. Agak sulit bekerjasama dengan teman, suka memerintah, sikap yang agresif merupakan salah satu sikap yang sulit diterima dalam kelompok.

• Mitos 2: Anak tunggal lebih cenderung senang main sendiri, kurang tertarik terhadap hal yang kompetitif karena mereka terbiasa sendirian sepanjang waktu.

Fakta: Kesimpulan itu lebih banyak berhubungan dengan kelas sosial dibandingkan jumlah keluarga. Ketertarikan terhadap hal itu biasanya terpicu dari nilai-nilai yang dikembangkan orangtua dan lingkungan rumah menengah ke atas, yang memang lebih banyak memiliki anak tunggal.

• Mitos 3: Semua anak tunggal mempunyai teman khayalan sebagai kompensasi dari kesepian mereka.

Fakta: Tidak ada bukti ilmiah terhadap hal tersebut. Profesor psikologi dan kajian anak di Yale University Jerome Singer, Ph.D mengonfirmasi imajinasi dibutuhkan untuk memiliki teman khayalan. Hal tersebut bukan hanya dimiliki anak tunggal, anak yang terisolasi, anak yang sakit atau cacat. Teman khayalan, tegas Jerome, merupakan salah satu solusi terhadap kebutuhan untuk bertemu termasuk menghilangkan kesepian, memerangi ketakutan atau kompensasi terhadap perasaan lemah dalam hubungan dengan orang yang lebih dewasa atau anak yang lebih tua. ” Semua anak bisa merasakan hal tersebut,” ujar Jerome.

• Mitos 4: Anak tunggal adalah anak yang manja.

Fakta: Menjadi seorang yang manja adalah refleksi dari kehidupan masyarakat. Setelah 20 tahun diberlakukan kebijakan satu orang anak dalam setiap keluarga di Cina, para orangtua menemukan anak tunggal tidak selalu manja dan tidak ada perbedaan pada hubungan anak tunggal dengan teman-temannya dibanding dengan dengan anak yang memiliki saudara kandung.

• Mitos 5: Anak tunggal adalah anak yang egois.

Fakta: Setiap anak pada satu masa percaya dunia berpusat pada dirinya. Profesor kedokteran anak dan psikiatri di Robert Wood Johnson Medical School New Jersey, Michael Lewis mengatakan egois artinya ialah ketika seseorang memikirkan dirinya sebagai oposisi dari orang lain. Anak-anak yang tidak dapat melihat dari sudut pandang orang lain terlihat egois.

• Mitos 6: anak tunggal selalu menginginkan semua harusberjalan sesuai dengan cara mereka.

Fakta: Anak-anak yang memiliki saudara kandung seringkali harus berurusan dengan ”siapa yang jadi bos”. Misalnya, saat dihadapkan dengan saat berbagi mainan, menonton televisi dan perhatian orangtua. Guru taman kanak-kanak, Deejay Schwartz, mengobservasi anak tunggal merasa kesulitan dan harus berjuang menjadi seseorang yang berada di garis depan atau berteriak paling keras jika ingin didengar. Sementara, anak-anak yang memiliki saudara kandung selalu di dengar, sehingga hal itu berfungsi membuat mereka lebih tenang.

• Mitos 7: Anak tunggal selalu cenderung tidak mandiri.

Fakta: Anak tunggal yang biasanya mendapatkan tuntunan dari orangtua dan tidak adanya saudara kandung untuk bergantung, justru lebih mengandalkan dirinya sendiri serta mandiri dibandingakan anak-anak yang memiliki kakak dan adik yang bisa membantu mereka.

• Mitos 8: Anak tunggal menjadi lebih matang lebih cepat.

Fakta: Anak yang memiliki saudara kandung berhubungan dan berbicara lebih banyak dibandingkan dengan orangtuanya. Tokoh panutan anak tunggal adalah orangtua mereka. Hasilnya anak tunggal meniru perilaku orangtuanya lebih banyak seperti cara bicara seperti orangtua dan membangun kemampuan untuk mengungkapkan alasan lebih cepat sebagai alat pelengkap mereka untuk menghadapi saat sedih dan bahagia ketika mereka tumbuh dewasa. (berbagai sumber/ri)

=============================================

Memahami Emosi Anak Tunggal
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=69241

Asuhan: HIDAYAT (Paedagog)
Assalamualaikum wr. wb.
Pengasuh yang saya hormati. Saya memiliki persoalan sehubungan dengan emosi anak laki-laki semata wayang kami. Usianya sekarang 6 tahun dan tahun ini akan memasuki jenjang sekolah dasar. Anak kami tersebut, memiliki masalah sehubungan dengan hambatan pendengaran. Dia masih bisa mendengar namun kurang jelas dan untuk memperlancar kemampuan komunikasinya anak kami menggunakan bantuan alat dengar.

Yang menjadi persoalan adalah, emosinya cenderung labil. Jika di rumah, sikap egoisnya sering kali muncul dan dapat meledak-ledak, namun kadang tenang dan rasa malunya muncul ketika berada di lingkungan berbeda. Apakah emosi anak kami tersebut disebabkan oleh kondisi hambatan pendengarannya atau karena cara pengasuhan kami yang salah.

Demikian pertanyaan saya, semoga segera dapat ditanggapi oleh pengasuh. Terima kasih.

Wassalam,
Danu di Bandung

Bapak Danu ada baiknya kita pahami emosi umum yang terjadi pada tahapan usia putra Bapak, yaitu berada pada tahap awal masa kanak-kanak. Selama awal masa kanak-kanak emosi sangat kuat. Saat ini merupakan saat ketidakseimbangan , anak lebih mudah terbawa ledakan-ledakan emosional. Hal ini tampak akan menyolok pada anak-anak usia 2,5 sampai 3,5 tahun dan 5,5 sampai 6,5 tahun.
Walaupun setiap emosi itu lebih sering timbul dan lebih kuat dari biasanya pada individu tertentu, tetapi emosi yang meninggi pada awal masa kanak-kanak ditandai oleh ledakan amarah yang kuat. Emosi yang tinggi kebanyakan disebabkan oleh masalah psikologis daripada masalah fisiologis. Lebih penting lagi, anak-anak yang diharapkan orang tuanya mencapai standar yang tinggi akan lebih mengalami ketegangan emosional daripada anak-anak yang orang tuanya lebih realistis dalam menumpukan harapannya.

Selain itu, adanya perbedaan seks dalam emosi terutama karena tekanan sosial dalam mengekspresikan emosi. Maka pada sepanjang awal kanak-kanak, anak lelaki lebih banyak menunjukkan amarah lebih banyak dibandingkan perempuan. Sebaliknya, takut, cemburu dan kasih sayang dianggap lebih tepat untuk anak perempuan, sehingga ia lebih kuat mengungkapkan emosi ini.

Bila menelaah kasus putra Bapak, yang mengalami hambatan pendengaran, tampaknya kondisi ini dapat memperkuat situasi emosi dari dalam dirinya. Kekurangpahaman bahasa lisan yang ia dengar secara tidak utuh, menyebabkan anak menafsirkan sesuatu secara negatif atau salah dan ini sering menjadi tekanan bagi emosinya. Tekanan pada emosinya itu dapat menghambat perkembangan pribadinya dengan sikap menutup diri, bertindak agresif, atau sebaliknya menampakkan kebimbangan dan keragu-raguan. Keterbatasan yang dimiliki anak dapat menjadi keterbatasan anak dalam mengekspresikan keinginannya. Apalagi bila ditambah orang tua kurang memahami/mengerti kondisi anak.

Untuk memahami sifat egoisnya, dengan menilik usianya, anak harus mulai diberi pengertian. Mengingat sifat egois ini masih terbilang “normal”, jika terjadi di usia pra sekolah, namun diharapkan makin menipis di usia selanjutnya. Usia 5 – 6 tahun, anak diharapkan sudah mampu menyadari akibat dari suatu tindakan pada orang lain, belajar menempatkan diri pada orang lain.

Anak tunggal

Selain faktor hambatan yang dimiliki oleh anak, sebaiknya Bapak pun cukup memahami karakteristik seorang anak tunggal. Secara umum ada keterikatan yang kuat antara anak tunggal dengan orang tuanya atau siapapun yang mengasuhnya. Dalam perkembangan selanjutnya, anak akan memiliki semua kesempatan untuk berinteraksi dengan orang tuanya, tanpa kehadiran saudara lain. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan memiliki anak tunggal:

- Hubungan antara orang tua-anak sangat dekat.
– Orang tua cenderung overprotektif.
– Pola asuh cenderung permisif, namun juga bisa demokratis.
– Orang tua akan lebih mampu untuk memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan diri.
– Orang tua cenderung memiliki harapan terlalu tinggi agar anaknya mencapai prestasi sesuai kemampuan anak.
– Anak mendapat lebih banyak kebebasan untuk menentukan peran dirinya.

Pada kebanyakan orang tua, sering kali memperlakukan anak tunggal seperti memperlakukan anak bungsu daripada anak sulung. Kendati begitu, harapan orang tua terhadap anak tunggal lebih mirip dengan harapan terhadap anak sulung. Hal yang dapat dilakukan orang tua antara lain:

- Memberi kesempatan pada anak untuk bergaul dengan saudara atau temannya, agar anak belajar bersaing, berbagi dan bernegosiasi.

- Anak didorong untuk menjadi diri sendiri, dengan mengembangkan minat dan bakatnya sendiri. Bukan atas dasar minat dan kemampuan orang tua.

- Anak tunggal sering punya masalah yang khas, yaitu sulit bergaul di sekolah. Bila hal ini terjadi bantulah mereka untuk mengatasi masalah sosialnya.

Dengan memahami seluruh kondisi pada anak, setidaknya Bapak akan lebih memahami perkembangan emosi yang terjadi dengan putra Bapak. Pada anak dengan hambatan, lingkungan sosial di sekeliling anak memberikan pengaruh yang cukup besar. Jadi emosi anak dapat relatif stabil, salah satunya bergantung pula pada pola asuh orang tua.

Jika anak merasa aman, nyaman, dilimpahi kasih sayang, anak pun akan tumbuh baik dan penuh percaya diri. Otomatis, emosinya stabil meski dengan segala keterbatasannya. ***

=============================================

Timang-timang Anak Semata Wayang

Mendidik anak memang tidak mudah. Siapa bilang pula mendidik anak tunggal lebih gampang karena cukup satu anak saja yang diurusi. Justru pada situasi seperti ini orang tua kerap membuat kesalahan. Tapi jangan cemas, tetap ada cara mengatasinya, kok.

1. Terlalu Melindungi
Namanya juga anak semata wayang, wajar saja orang tua memberi perhatian lebih. bahkan kerap berlebihan. Waktu si kecil belajar jalan, misalnya, orang tua akan berusaha menjaga agar jangan sampai si anak jatuh. Saat si anak tunggal bertengkar dengan temannya, orang tua buru-buru datang untuk “menyelamatkannya”.

Alhasil, anak tak akan pernah belajar bagaimana hidup di dunia nyata karena orang tua selalu melindunginya dari apa pun.

Nah, coba lihat dari sisi lain dan diskusikan dengan para orang tua yang juga punya anak tunggal. Tanyakan tolok ukur mereka yang dapat membantu Anda menentukan antara melindungi dan melindungi secara berlebihan.

2. Membatasi Interaksi
Karena terbiasa jadi pusat perhatian orang tuanya, anak tunggal umumnya akan mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan teman sebayanya. Padahal, bersosialisasi di usia dini akan membantu mereka belajar berbagi, menunggu giliran, dan memecahkan masalah yang mereka hadapi.

Pastikan anak Anda meluangkan cukup waktu bersosialisasi dengan teman sebayanya. Entah lewat sekolah atau main ke rumah teman. Jika Anda tinggal dekat sanak famili, bermain bersama sepupunya yang sebaya juga akan memberi dampak sosial yang baik bagi si anak.

3. Bantu Jalin Pertemanan
Beri kesempatan si kecil bergaul dengan teman sebayanya. Aktivitas sosial sangat diperlukan untuk anak tunggal, bahkan sejak si anak berumur 18 bulan. Ini bisa dilakukan dengan cara memasukkannya ke taman bermain atau mengajaknya bermain dengan anak teman Anda yang usianya sebaya.

Bermain bersama teman harus dijadwalkan dengan rutin. Entah si teman yang main ke rumah si anak atau sebaliknya. Sebab, di situlah mereka harus belajar berbagi mainannya, berbagi perhatian dari orang tuanya, dan bila si anak bermain di rumah temannya, ia juga harus mengikuti aturan yang berlaku di rumah si teman.

Buat jadwal bermain bersama teman sebaya mengingat anak semata wayang seringkali lebih tertarik dengan orang yang berusialebih tua atau lebih muda darinya.

4. Ajarkan Sopan Santun
Karena semata wayang, anak tak pernah punya kesempatan diperlakukan “kasar” oleh saudara sekandung. Padahal, persaingan antar saudara se kandung sebetulnya merupakan kesempatan nyata untuk bisa beradaptasi dengan teman sebayanya di pergaulan sehari-hari.

Jadi, tugas Andalah sebagai orang tua untuk memberi contoh bagaimana seharusnya berbagi, berkompromi, memberi perhatian pada orang lain. Jangan lupa hargai si kecil jika ia melakukan perbuatan-perbuatan tersebut dan beri ia peringatan jika melakukan yang sebaliknya.

5. “Menyingkir”
Bantu kembangkan kemandirian anak. Soalnya, karena terlalu dekat dengan orang tuanya, anak jadi sangat bergantung. Apa-apa harus bersama Mama atau Papa. Dari mulai bikin pekerjaan rumah sampai urusan tidur, kendati si anak sudah besar. Orang tua dapat menghilangkan ketergantungan dengan memberi tanggung jawab pada anak. Ajarkan ia melakukan tugas-tugas rutinnya. Seperti dikatakan ahli, si semata wayang perlu belajar bagaimana memberdayakan dirinya.

6. Tetapkan Batas
Anak tunggal seringkali merasa sebagai bagian dari orang dewasa dan berpikir, mereka punya hak berbicara dan kekuatan yang setara dengan ayah-ibunya. Ya, boleh-boleh saja asalkan tetap diberi batasan yang jelas. Misalnya, ia boleh bersuara dalam berbagai masalah keluarga, tapi keputusan tetap diambil orang tua. Yang juga tak boleh dilupakan, orang tua juga tetap perlu waktu untuk berdua-duaan. Tak harus selalu bersama anak sepanjang waktu meski ia anak semata wayang.

Meluangkan waktu yang berkualitas untuk si anak adalah satu dari banyak keuntungan dari memiliki anak tunggal, tetapi sangatlah penting untuk memupuk kehidupan perkawinan yang ada. Ingat, ibu dan ayah memiliki hak atas kehidupan mereka sendiri. nova.

=============================================
Negara Anak Tunggal
Apa jadinya jika sebuah negara hanya diisi oleh anak tunggal? Pada awalnya hal ini mungkin terdengar seperti dongeng, tapi kemungkinannya menjadi kenyataan sangat besar ketika satu nama disebut: RRC (maaf jika penyebutan ini kurang politically-correct). Pada akhir dekade 1970an, Pemerintah RRC menetapkan kebijakan satu anak per-keluarga (one-child policy) untuk membendung populasinya yang saat itu hampir mencapai 1 milyar. Terlepas dari segala kontroversi dalam pelaksanaannya, program tersebut dianggap cukup sukses menahan laju pertumbuhan penduduk sehingga 30 tahunan kemudian penduduk RRC ‘hanya’ bertambah sekitar 300 juta jiwa.

Meski program tersebut kini mulai diperlonggar, perubahan sosial besar-besaran dalam masyarakat telah terjadi, sesuatu yang tak terpikirkan oleh Politbiro Partai ketika mereka mencetuskan kebijakan itu: Munculnya generasi anak-anak yang tak memiliki kakak maupun adik. Ada apa dengan mereka? Apa dampaknya terhadap masyarakat luas?

Pada awalnya, anak-anak tunggal ini diduga memiliki kepribadian yang egosentris, kurang gigih dalam berusaha, kurang dapat bekerjasama, dan kurang begitu disukai anak-anak lain jika dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki saudara. Namun penelitian lanjutan yang melibatkan 4000 anak kelas empat dan enam dari daerah perkotaan dan pedesaan menunjukkan bahwa orangtua, guru, teman-teman sebaya, dan diri sendiri menilai tidak ada perbedaan kepribadian yang berarti. Pada sebagian kecil kasus, anak-anak tunggal tampaknya memiliki masalah perilaku, tapi hal ini sebenarnya disebabkan oleh pola asuh orangtua yang terlalu membebaskan atau terlalu mengekang.

Dalam beberapa penelitian, anak-anak tunggal bahkan bisa dibilang lebih unggul dari anak-anak yang memiliki saudara kandung. Melalui kuesioner yang disebarkan ke 731 anak dan remaja di daerah perkotaan, diketahui bahwa mereka yang memiliki saudara kandung lebih penakut, pencemas, dan lebih rentan terhadap depresi dibandingkan anak-anak tunggal. Sebuah studi acak pada sekolah-sekolah di Beijing juga menunjukkan bahwa anak tunggal memiliki daya ingat serta kemampuan bahasa dan matematika yang lebih baik dibanding anak yang memiliki saudara kandung

Tentunya faktor lingkungan yang unik berperan besar dalam kemunculan perbedaan ini. Dalam masyarakat yang menghargai dan mendorong dominasi anak tunggal, anak-anak yang memiliki saudara kandung bisa lebih kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan teman sebayanya. Selain itu, keunggulan anak tunggal juga mencerminkan besarnya perhatian, stimulasi, impian, dan harapan dari orangtua terhadap anak mereka yang pertama dan terakhir. Buktinya, anak tunggal yang lahir sebelum adanya kebijakan satu anak per-keluarga tidak menunjukkan keunggulan kognitif yang berarti.

Menurut Papalia, Olds, dan Feldman (2007), kebijakan satu anak per-keluarga juga memiliki potensi yang ‘mengerikan’ di masa depan. Bayangkan jika anak-anak tunggal ini beranjak dewasa dan berkeluarga: Anak-anak mereka nantinya akan tumbuh tanpa figur paman, bibi, sepupu, keponakan, kemenakan, dan saudara kandung. Sulit memperkirakan dampak ‘revolusi budaya kedua’ ini terhadap tatanan sosial masyarakat.

Yang juga menjadi masalah, terutama di daerah pedesaan, adalah seleksi gender. Anak laki-laki masih dianggap lebih ‘berharga’ dibandingkan anak perempuan, sehingga muncul kasus-kasus bayi perempuan yang diaborsi, dibuang, atau ditelantarkan sampai mati oleh orangtuanya agar anak satu-satunya mereka adalah anak laki-laki. Hal ini dapat menyebabkan timpangnya rasio laki-laki:perempuan di masa mendatang yang menyulitkan para pria di RRC untuk mencari pasangan.

POLA RELASI ORANG TUA VS ANAK

Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terhadap kecerdasan emosional ditinjau dari pola hubungan hubungan interpersonal. (0.000<0.05). Lalu, pola hubungan seperti apa yang mempengaruhi Kecerdasan Emosional? Kami melakukan identifikasi pola relasi Orang Tua – Anak dengan menggunakan acuan dasar teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relationships Orientation) yang kami olah ulang dengan menggunakan Analisis Faktor.

EMPAT POLA RELASI ORANG TUA –ANAK
Hasil perhitungan Analisis faktor terhadap teori FIRO ditemukan empat tipe Pola Relasi Orang Tua – Anak. Seperti apa ciri empat pola tersebut? Simak berikut ini:i

a. Equal Relationship

Dalam Equal Relationship, orang tua memperlakukan anak bukan sebagai individu yang kedudukannya lebih rendah melainkan sebagai individu yang setara. Dengan demikian, seorang anak mempunyai lebih banyak kesempatan untuk melakukan evaluasi terhadap segala perilakunya, termasuk dalam hal mengendalikan emosi. Di sini anak belajar dari pengalaman berinteraksi dengan orang tuanya bahwa selama ini ia diberi kesempatan untuk bersaing ataupun bekerjasama dengan orang tuanya pada situasi tertentu sehingga ia akan belajar mengenali kelebihan dan kekurangannya sekaligus belajar untuk mengendalikan emosinya. Melalui proses belajar dari pengalaman sendiri, tanpa terlalu didominasi maupun terlalu didukung, maka seorang anak akan menjadi lebih matang secara emosional.

Sejalan dengan pendapat penulis, Damon mengatakan bahwa dalam pola hubungan interpersonal Equal Relationship, anak diberi pemahaman tentang perilaku baik dan buruk melalui pertanggungjawaban yang harus diberikan atas setiap perilakunya, anak memperoleh dukungan yang sesuai dari orang tuanya sehingga ia akan mempu memngembangkan kepedulian dan perhatian terhadap orang lain. Selain itu anak juga merasakan reaksi emosi negatif dari pengalaman pribadi mereka sehingga kecerdasan emosional mereka akan semakin berkembang.

b. Supportive Parent
Sedangkan pada pola hubungan interpersonal Supportive Parent, orang tua selalu memberikan dukungan dan perhatian pada anak. Dengan pola hubungan interpersonal yang demikian, seorang anak akan memiliki kedekatan secara emosional dengan orang tuanya. Anak tersebut memiliki peluang untuk mampu mengenali dan mengolah emosi dengan baik. Namun kelemahan pola interaksi ini adalah anak tersebut akan kurang memiliki kompetensi dalam hal emosinya karena selama ini dalam menghadapi masa-masa sulit selalu ada orang tua yang mendampinginya.
Dalam pola hubungan interpersonal Supportive Parent, anak selalu mendapat dukungan dari orang tua sehingga mereka akan lebih jarang mengalami reaksi emosi negatif.

c. Dominant Parent
Sedangkan dalam pola hubungan interpersonal Dominant Parent, seorang anak berada dalam kendali orang tuanya. Dengan demikian anak akan merasa dalam keadaan “aman-aman” saja. Kelemahannya adalah setiap keputusan yang diambil harus mendapat persetujuan dari orang tua dan anak tidak diberi kesempatan untuk belajar memahami dan mengolah emosi berdasarkan pengalamannya sendiri sehingga anak tidak belajar bagaimana menerima resiko dan bertanggung jawab atas segala tindakannya.

Dalam pola hubungan interpersonal Dominant Parent, segala sesuatunya sudah dikendalikan oleh orang tua sehingga anak kurang mendapat pemahaman tentang mana perilaku yang baik atau buruk.

d. Distant Relationship
Distant Relationship adalah pola hubungan interpersonal dimana ada jarak antara anak dan orang tua karena tidak ada kepercayaan antara anak dengan orang tuanya. Selain itu, anak merasa bahwa orang tua cenderung memaksakan kehendaknya dan harus dihiindari. Dengan adanya ketidaknyamanan secara emosi ini, akan membuat seorang anak lebih sulit untuk mengenali dan mengolah emosinya dengan baik. Pengalaman yang demikian juga akan membuat seorang anak sulit untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain.
Sedangkan dalam Distant Relationship, anak kurang memperoleh pengkukuhan atas perilaku yang baik ataupun perilaku yang buruk dari orang tua karena adannya jarak dalam hubungan mereka sehingga kecerdasan emosional anak kurang berkembang. Selain itu mereka juga tidak merasa mendapat dukungan dari orang tua dalam masa-masa sulit merek sehingga akan sulit bagi mereka untuk mengembangkan kepedulian dan perhatian pada orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s