dengkuran pada bayi

Posted: June 21, 2009 in Uncategorized

Mendengkur terjadi karena anatomis jalan nafas yang cenderung menutup saat
posisi berbaring terlentang. Karena itu kadang bila tidurnya miring, mendengkur
menghilang. Tanda yang sering, bila leher pendek, anak dengan berat badan
lebih, ada pembesaran tonsil, sering menimbulkan kebiasaan mendengkur.

Bila hambatan saluran nafas itu berat, bisa terjadi kondisi benar-benar
terhambat. Saat itulah terpaksa terbangun karena pasokan oksigen terhambat.
Setelah terbangun biasanya sedikit bergerak-gerak/berubah posisi, sampai
hambatan saluran nafasnya terbuka lagi. Bila kondisi ini terjadi berulang-ulang
selama tidur, berarti kualitas tidurnya terganggu, berarti proses “istirahat”
dan regenerasi seluler juga terganggu. Juga, dikhawatirkan kurangnya pasokan
oksigen ke otak. Dari sanalah berkembang kekhawatiran akan mengganggu
perkembangan anak. Bila kondisi ini terjadi berulang-ulang

selama tidur, berarti kualitas tidurnya terganggu, berarti proses “istirahat”
dan regenerasi seluler juga terganggu. Juga, dikhawatirkan kurangnya pasokan
oksigen ke otak. Dari sanalah berkembang kekhawatiran akan mengganggu
perkembangan anak.

MENDENGKUR BELUM TENTU OSA
Salah satu ciri OSA adalah mendengkur, tetapi tidak setiap orang yang
mendengkur mengidap OSA. Mendengkur dapat disebabkan berbagai faktor.
Contoh, kecapekan bisa membuat orang mendengkur. Saat mendengkur pun
belum tentu jalan napas yang bersangkutan akan tertutup dan
mengakibatkan apnea tidur.

CIRI-CIRI ANAK DENGAN GANGGUAN TIDUR

Beberapa di antaranya adalah:

* Mendengkur dan tampak kesulitan bernapas saat tidur.
* Berkeringat terus-menerus saat tidur. Sekalipun tampak sedang tidur,
organ-organ tubuh anak penderita OSA sebenarnya tetap terjaga untuk
selalu siap “membangunkan” fungsi sadar otaknya saat napasnya
terhenti. Berkat “perjuangannya” itu jalan napasnya memang menjadi
selalu terbuka, namun organ-organ tubuhnya kecapekan. Maka itulah anak
jadi berkeringat saat tidur.
* Bernapas melalui mulut merupakan salah satu usaha anak untuk tetap
bisa bernapas, saat saluran napasnya mengecil.
* Mudah marah dan cepat tersinggung akibat emosi anak yang tidak
stabil karena kurang tidur.

* Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa karena otak anak lelah akibat
kurang tidur. Hal ini sangat berpengaruh pada prestasinya.
* Aktif yang berlebihan. Akibat tidurnya tidak sempurna anak menjadi
uring-uringan dan melampiaskannya dengan perilaku hiperaktif.
* Anak juga mudah tertidur di mana saja. Kurang tidur di malam hari
membuat anak menjadi cepat lelah, baik fisik maupun mental. Tubuhnya
butuh istirahat supaya energinya kembali.
* Kegemukan. Banyak orangtua beranggapan tubuh anaknya yang lemas
(yang ditandai dengan malas bergerak) disebabkan kurang energi
sehingga mereka memberinya banyak makan. Padahal kelelahan si anak
karena kurang tidur. Akibat malas bergerak namun banyak makan inilah
anak menjadi gemuk.
* Menderita tonsilitis (pembesaran amandel) sehingga sulit menelan.
Mulut dan rongga leher merupakan sarang bakteri dan kuman yang akan
“beraksi” saat daya tahan tubuh sedang tidak prima. Akibat kurang
tidur, daya tahan tubuh anak jadi menurun dan mudah mengalami radang
amandel.
* Mengalami gangguan tumbuh kembang (failure to thrive). Jangan lupa,
proses tumbuh kembang seorang anak sebagian besar terjadi di saat ia
tidur di malam hari. Karena di saat inilah “baterai” tubuhnya seperti
diisi kembali. Tidur yang tidak sempurna, sedikit banyak tentu akan
mengganggu proses tumbuh kembangnya

ada penderita alergi biasanya anak mengalami sering pilek, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari atau mimisan (hidung berdarah) atau coba perhatikan gejala alergi lainnya.

GANGGUAN PADA PENDERITA ALERGI DAPAT MEMPENGARUHI PERILAKU ANAK
GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong atau diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}, sering memanjat. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
GANGGUAN TIDUR MALAM : gelisah/bolak-balik ujung ke ujung, bila tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak saat tidur, sulit tidur, malam sering terbangun/duduk,mimpi buruk, “beradu gigi”
AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan thd sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game,baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala
GANGGUAN SENSORIS & KOORDINASI MOTORIK:
Bolak-balik, duduk, merangkak tidak sesuai usia. Terlambat berjalan, jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, jalan jinjit, duduk leter ”W”.
GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA BIASANYA DIATAS USIA 2 TAHUN MEMBAIK, bicara terburu-buru, cadel, gagap. Gangguan menelan-mengunyah, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
Memperberat gejala AUTIS dan ADHD

Berdasar data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), satu di antara empat anak mengalami masalah yang berkaitan dengan tidur. Bahkan, sepertiga populasi bayi sulit tidur sepanjang malam.

”Gangguan tidur yang masih bisa dikatakan normal adalah bila anak sulit memulai tidur. Atau, sering terbangun di malam hari, Yang perlu diperhatikan, bila anak sering mengompol, mendengkur, dan mengeretukkan gigi. orang tua perlu mencari penyebabnya atau berkonsultasi ke dokter anak
Mendengkur (sleep apnea),. Kondisi itu terjadi karena penyempitan saluran napas secara periodik saat tidur. Penyebabnya macam-macam. Salah satunya, pembengkakan tonsil/adenoid karena pilek dan influenza. ”Yang bahaya bila anak mendengkur dan sering, cegukan tapi sedang tak pilek,” Lebih bahaya lagi bila mendengkur disertai berhentinya proses bernapas sementara waktu. Atau, napas terdengar berisik. Dalam kondisi tersebut, napas anak tersengal-sengal. ”Saat itu, otot perut dan leher jadi tegang. Seperti orang tercekik,” kalau menjadi permanen, mendengkur akan memengaruhi proses tumbuh kembang anak. Karena tidur malam tak nyenyak, anak mengantuk saat siang. Biasanya, hal itu disertai nyeri kepala dan sulit konsentrasi. Anak juga cenderung labil, hiperaktif, dan lesu.
Masalah pernafasan pada anak ketika tidur seperti mendengkur, bernafas melalui mulut, dan apnea (nafas yang berhenti lama secara abnormal) dikenal dengan nama sleep disordering breathing (SDB).

Berdasarkan penelitian dari para peneliti di Albert Einstein College of Medicine of Yeshiva University, SDB ternyata dapat menghambat pertumbuhan dari anak.

SDB dapat mengganggu “deep sleep”, suatu periode dari rangkaian tidur dimana tubuh biasanya mengeluarkan hormon pertumbuhan dalam jumlah yang besar.

Penyebab utama terjadinya SDB adalah pembesaran tonsil dan/atau adenoid. Beberapa penyebab lainnya adalah obesitas, neuromuskular yang lemah dari otot pernafasan, dan abnormalitas kraniofasial.

Di dalam penelitian ini, anak-anak yang dilakukan operasi pembuangan tonsil/adenoidnya (amandel) mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam berat dan tinggi badannya.

Selain berhubungan dengan pertumbuhan anak, SDB juga berhubungan dengan masalah tingkah laku dan kognitif anak, misalnya attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan keterbatasan dalam kemampuan belajar

Bunyi nafas seperti orang mendengkur pada bayi menandakan adanya produksi lendir yang berlebih. Produksi lendir yang berlebih mudah dialami bayi yang membawa bakat alergi. Begitu terpacu oleh alergen (pemicu timbulnya alergi), produksi lendirnya akan meningkat. Selain alergi, peningkatan lendir juga dapat terjadi jika bayi terkena virus, contohnya infulenza.

Pastikan terlebih dahulu penyebab utama terjadinya bunyi nafas pada bayi Anda. Konsultasikan pada dokter segera.

Apakah kondisi ini berbahaya? Sejauh tidak mengganggu proses menyusu, tidak disertai demam dan infeksi, dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari bayi, maka hal ini tidak perlu dikhawatirkan. Namun ada baiknya menjauhkan bayi dari faktor pemicu alerginya.

Pada dasarnya, bayi memproduksi banyak lendir. Masalahnya adalah karena ia belum dapat mengeluarkannya sendiri. Bila nafas bayi berbunyi saat ai menderita flu dan bunyinya semakin keras (Anda merasa lendirnya banyak sekali), tegakkan tubuh bayi (sangga bagian belakang tubuhnya dengan lengan dan tangan Anda), usap perlahan dadanya. Atau Anda dapat meletakkan bayi dalam posisi tengkurap di pangkuan, lalu tepuk-tepuk punggungnya. Jangan lakukan saat bayi baru saja minum ASI.

Dengan melakukan kedua cara tersebut, biasanya kelebihan lendir akan keluar melalui mulut (dimuntahkan). Namun jika seandainya lendir tertelan tak mengapa (mengingat ia belum pandai mengeluarkan lendirnya). Lendir akan keluar melalui saluran pembuangan.

Beberapa pemicu yang dapat mengakibatkan bunyi nafas bagi bayi, terutama bagi bayi yang memilikii saluran nafas sensitif atau memiliki riwayat alergi dalam keluarganya:
1. Debu rumah
2. Bulu binatang peliharaan
3. Asap rokok
4. Obat nyamuk
5. Binatang-binatang kecil
6. Asap kendaraan
7. Serbuk sari tanaman
8. Asap hasil bakaran sampah
9. Infeksi saluran nafas (biasanya terjadi karena virus)
10. Perubahan cuaca
11. Aktivitas fisik yang berlebihan
12. Kombinasi dari beberapa faktor penyebab di ata

bayi pun bisa mendengkur saat tidur. Terutama, pada bayi yang laahir prematur sering dijumpai henti nafas waktu tidur. Kondisi ini bukan disebabkan adanya penyumbatan, tapi karena sel-sel otak sebagai pusat pernafasan tidak berkerja secara sempurna. Kondisi ini dinamakan Central Sleep Apnea (CSA)

CSA ini berbahaya karena sering menyebabkan kematian mendadak pada bayi. Bila anda pernah mendengar ada bayi meninggal pada posisi tengkurap, bisa jadi ia mengalami CSA. Karena terlalu tengkurap dan tidak diperhatikan dengan seksama. Selain mati mendadak, risiko lain yang bisa terjadi adalah otak bayi tidak berkembang dengan baik,sehingga ia bsia mengalami hambatan tumbuh kembang.

Kelainan wajah (maxio facial) pada anak-anak juga menyebabkan mengorok. Tulang hidung pendek atau pesek misalnya, bisa membuat anak-anak mengorok. Termasuk, amandel yang tidak diangkat, pun bisa menyebabkan dengkuran. Untuk kasus mengorok yang tergolong ringan, dapat diatasi dengan melakukan perubahan perilaku. Misalnya dengan cara lebih aktif berolahraga, mengurangi rokok, latihan pernafasan dan relaksasi. Namun, kalau tidak ditemukan kelainan tapi tetap mengorok. Maka, akan dilakukan pemasangan CPAP (Continues Postive Air Pressure), yaitu alat yang terdiri dari masker dan kompresor. Masker ditutup ke hidung, lalu ke dalam masker dialirkan udara yang bertekanan tetap dari
kompresor, sehingga jalan nafas tetap terbuka. Berkat alat ini, biasanya pengorok tidak akan mengorok lagi dan bangun tidur dalam keadaan segar bugar

BERBAGAI TERAPI

Lantas apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi OSA? Memeriksakan anak
merupakan tindakan yang disarankan. Pilihlah rumah sakit yang memiliki
klinik tidur sehingga penderita dapat menjalani sleep study di bawah
pengawasan ahli. Jika hasilnya memang positif, penderita OSA akan
ditawarkan beberapa pilihan terapi sesuai dengan berat ringannya
kasus. Terapi- terapi tersebut adalah:

* Terapi operasi pelebaran saluran napas atas (UPP) atau somnoplasty.

* Terapi operasi plastik mulut. Ini dilakukan untuk mengatasi
penyempitan jalan napas yang disebabkan oleh kecilnya rahang bawah.

* Terapi dengan menggunakan dental appliances. Alat ini berfungsi
mengganjal mulut untuk mencegah lidah terjatuh, dan bisa melebarkan
saluran napas.

* Terapi Continous Positive Airway Pressure (CPAP), yaitu meniupkan
udara bertekanan tinggi ke jalan napas selama tidur sehingga tidak
akan lagi terjadi penyempitan. Pada praktiknya, saat tidur penderita
OSA akan menggunakan alat yang berbentuk masker.

Semua terapi ini berlaku bagi semua kalangan dan usia, bahkan bayi sekalipun.

Setelah menjalani terapi, pasien tentu diharapkan dapat tidur dengan
nyenyak dan sempurna sepanjang malam. Yang terpenting lagi, dapat
mengurangi berbagai risiko OSA hingga ke titik terendah

.

HUBUNGAN OSA DENGAN GANGUAN JANTUNG

Saat terjadi apnea tidur, otomatis oksigen dalam darah menurun
sehingga suplai ogsiken ke seluruh organ tubuh ikut turun. Keadaan
tersebut menyebabkan jantung bekerja lebih cepat untuk mencukupi
suplai oksigen. Bila kondisi ini terjadi sepanjang malam secara terus
menerus saat penderita OSA tidur tentu akan membuat jantungnya capek
bekerja dan mudah mengalami kerusakan.

HUBUNGAN OSA DENGAN HIPERTENSI

Di dalam pembuluh darah ada lapisan endotelium yang berfungsi
menghasilkan suatu zat untuk melenturkan pembuluh darah. OSA akan
merusak endotelium dan mengakibatkan pembuluh darah menjadi kaku. Akan
lebih parah jika penderita OSA mengidap kolesterol tinggi. Tentu akan
terjadi tekanan darah tinggi atau hipertensi. Lebih dari 35% penderita
apnea tidur mengalami tekanan darah tinggi dan berisiko terkena
serangan jantung. Sebanyak 83% pasien penderita tekanan darah tinggi
yang berkelanjutan, secara signifikan tetap akan mengalami apnea tidur
walau sudah mengonsumsi 3 jenis obat atau lebih.

Disarikan dari :
Dr Radix Heryanto – IDAI Cabang Jatim Komisariat Surabaya
Brett McLaren, pembicara dari Australia pada seminar Sleep Medicine Discussion yang
diadakan RS Mitra Kemayoran. dan
Dr. Andreas A. Prasadja,
dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta..serta beberapa artikel lainnya

Semoga berkenan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s