“CADEL”

Posted: October 30, 2009 in Uncategorized
Tags:

 

Berto and Biyan bakalan ngomongin “CADEL”

Cadel …PELAFALAN HURUF YANG KURANG SEMPURNA

Cadel ini adalah salah satu kekurangan yang ada pada diri manusia karena ketidakmampuannya dalam pelafalan huruf-huruf tertentu. Kata lain dari cadel ini antara lain cedal, pelo, pelat, dll. Sebagian besar dari kita atau bahkan nyaris semua manusia pernah mengalami fase cadel ini. Ketidakmampuan melafalkan huruf ‘r’ adalah bawaan dari kecil saat masih bayi. Ini lumrah dan sudah sewajarnya. Perlahan-lahan dengan kemampuan lidah untuk bergetar dengan sempurna maka pelafalan huruf ‘r’ pun sudah bisa didengar dengan jelas bahwa apa yang diucapkan seseorang itu adalah ‘r’, bukan ‘l’, ‘y’ atau yang lainnya.

Namun, ada pula cadel yang disebabkan karena kebiasaan. Kebiasaan serta bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi pun turut andil dalam menyebabkan cadel. Misalkan saja orang Bandung yang cadel terhadap huruf ‘f’ dan ‘v’ yang menjadi huruf ‘p’, dan huruf ‘z’ yang cenderung menjadi ‘j’. Atau orang Bali yang kesulitan melafalkan huruf ‘t’ dan ‘d’ dengan bersih, tanpa harus masing-masing berubah menjadi ‘th’ dan ‘dh’. Serta orang Jepang yang tak bisa melafalkan huruf ‘l’ dan cenderung menggantinya dengan ‘r’, kata Ronaldo menjadi Ronardo. Dan masih banyak lagi contoh lainnya. Atau ada juga cadel yang malah keterusan dari kebiasaan orang tua yang berbicara dengan gaya cadel kepada anak. “Cini-cini mimik cucu mama yah”. Sehingga anak menirunya hingga dewasa.. Hihi..

Tak sedikit dari kita yang menyadari bahwa kita termasuk sebagian kecil dari orang-orang cadel, kesusahan melafalkan sebagian huruf-huruf tertentu. Dari sebagian kecil itu, ada sebagian lagi yang merasa minder dan tak percaya diri dengan kenyataan tersebut. Merek seringkali menjadi bahan olok-olok dan canda tawa oleh sebagian orang yang ‘merasa’ tidak cedal.

“Laler rolas menclok ning pinggire rel sepur” (=Dua belas lalat hinggap di tepian rel kereta api) adalah salah satu kalimat yang diajarkan pada anak kecil untuk melatih pelafalan ‘r’ hingga mencapai taraf sempurna. Sempurna yang relatif. Kalimat ini juga yang seringkali menjadi bahan olok-olok buat orang cadel yang ditantang untuk mengucapkannya dengan sempurna, berulang-ulang. Kemudian tawa ejekan pun meledak keras saat mereka mendengar dan melihat ia sangat kesusahan dan mengalami ‘terpeleset lidah’ dalam mengucapkan kalimat itu.

Saya sendiri belajar untuk tidak cadel dengan mencoba menggetarkan lidah naik turun, dan menyentuh-nyentuhkan lidah berulang kali pada langit-langit rongga mulut. Ada suatu tantangan sendiri pada waktu itu. Hehehe.. Sama seperti ketika belajar menggapai telinga dengan tangan yang direntangkan tepat diatas kepala. Hihi… Dan alhamdulillah berhasil.

Ada banyak contoh mereka yang mengalami cedal tapi malah sukses menjadi seorang pembawa acara, presenter dan yang berhubungan dengan ‘mulut’ dan ‘lidah’. Rico Ceper, Effendi Ghazali (Republik Mimpi), dll adalah sebagian dari mereka. Rico Ceper malah menjadikan kekurangan berupa cadel ini menjadi suatu daya tarik dan sifat khas yang ada pada dirinya. Tanpa melihat wajah dan bentuk fisiknya terlebih dulu, kita bisa yakin bahwa suara yang sedang kita dengar adalah berasal dari lidah seorang Rico Ceper.

Ngomong-ngomong tentang presenter, ada seorang pria presenter radio di salah satu radio swasta Surabaya. E adalah inisial namanya. Si penyiar radio ini juga cadel, tak bisa melafalkan huruf ‘r’. Nah, setiap kali mendapat request by sms kan pasti ada yang namanya kirim-kirim salam dan sudah menjadi kewajiban penyiar radio untuk membacakan rekues dan kirim-kirim salam tersebut.

Sial baginya, dia malah sering mendapatkan sms kirim salam kepada mereka yang namanya mengandung ‘r’. “Saya andri dari SMP Barunawati mau rekues lagu Kerispatih Bila Rasa Ini Rasamu. Salamnya buat Ari, Nora, Aris, Riko, Reva, Roni, Citra, Putri, Indra, Rani, Tari, Rere, Reza. Trims ya dah dibacakan. Jangan lupa diputar ya. Segera!”. Itu hanya sebagian contohnya. Hahahahaha… Kasihan sekali saya mendengarkannya belepotan dalam membaca rekues per sms itu tadi di radio.

Nah, sekarang apakah anda pernah atau punya pengalaman pribadi tentang cadel ini? Atau bagaimana tanggapan anda. Atau malah anda sendiri yang mengalami olok-olok terhadap ke-cadel-an anda.. Yuk silahkan berbagi…!

Cadel Bisa Dicegah

Oleh : Intan Irawati

[www.kabarindonesia.com]

Di usia pra-sekolah, kosakata yang dikuasai seorang anak seharusnya sudah sangat banyak. Namun adakalanya hambatan datang menghadang. Bagaimana mengatasinya?

KabarIndonesia – Sebagian masyarakat percaya pada mitos yang mengatakan anak laki-laki lebih lambat menguasai kemampuan bicara dibanding anak perempuan. Padahal penelitian yang ada menunjukkan prosentase kemampuan bicara antara anak laki-laki dengan anak perempuan sama saja. Apalagi kemampuan bicara manusia sebetulnya sudah terlihat sejak ia dilahirkan, ditandai dengan tangisan bayi begitu keluar dari rahim ibunya.

Mitos itu mungkin muncul karena keterlambatan bicara pada anak laki-laki lebih cepat terdeteksi daripada anak perempuan. Bukankah perilaku anak laki-laki yang lebih aktif dan agresif mampu menarik perhatian orang di sekitarnya, sehingga kalau ada sesuatu yang terjadi padanya akan lekas ketahuan. Berbeda halnya dengan bayi perempuan yang kebanyakan lebih kalem walaupun tidak mesti begitu.

Cadel adalah ketidakmampuan mengucapkan satu huruf unik, umumnya huruf R, meski ada juga sebagian orang yang justru bisa menyebut huruf R, namun cadel untuk huruf lainnya. Orang Jepang misalnya, kebanyakan cadel pada huruf L. Ada beragam variasi cadel pada anak. Ada yang menyebut “R” jadi “L”, “K” jadi “T”, “K” jadi “D”, atau “S” dengan “T”, sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda. Jadi yang dimaksud dengan cadel adalah kesalahan dalam pengucapan.

Memang semestinya pada rentang usia pra-sekolah, anak sudah bisa mengucapkan seluruh konsonan dengan baik. Sebab menginjak usia 3-4 tahun, otot-otot lidahnya mulai matang. Hanya saja, perkembangan setiap anak berbeda. Jadi wajar meski usianya sama tapi masih ada anak yang cadel.

Sayangnya, cukup sulit mendeteksi, apakah kecadelan di usia 3-5 tahun akan berlanjut terus atau tidak karena menyangkut sistem saraf otak yang mengatur fungsi bahasa, yakni area broca yang mengatur koordinasi alat-alat vokal dan area wernicke untuk pemahaman terhadap kata-kata.

Kerusakan pada area broca disebut motor aphasiam yang membuat anak lambat bicara dan pengucapannya tak sempurna sehingga sulit dimengerti. Sedangkan kerusakan pada area wernicke disebut sensori aphasia di mana anak dapat berkata-kata tapi sulit dipahami orang lain dan dia pun sulit untuk mengerti kata-kata orang lain.

Tak hanya itu, kesulitan mendeteksi juga disebabkan pada rentang usia 3-5 tahun kemampuan anak masih berkembang. Artinya dia sedang dalam proses belajar berbicara. Ia tengah berada pada fase mulai menyesuaikan, mulai menambah perbendaharaan kata, meningkatkan pemahaman mengenai bahasa dan perkembangan makna kata. Termasuk juga penguasaan konsonan.

Kendati demikian, orang tua sebaiknya tidak membiarkan kecadelan anaknya, karena semakin lama akan semakin sulit diluruskan, sehingga bisa jadi si anak akan terus berada dalam kecadelannya. Apalagi cadel tak akan hilang secara otomatis meski kadar keseringannya berkurang. Jadi, berikanlah stimulasi agar cadelnya tak berkelanjutan.

Bila cadel dibiarkan, maka di usia sekolah nanti dapat menyebabkan anak merasa berbeda dengan teman-temannya. Buntutnya, anak menjadi malu dan merasa asing dari orang lain. Bisa-bisa ia tak mau bila disuruh berbicara di depan kelas karena takut ditertawakan teman-temannya. Akibatnya, anak jadi minder dan menarik diri.

Terakhir, rasa minder itu akan mempengaruhi self esteem atau harga diri si anak yang dapat berlanjut ke konsep diri. Tugas orang tualah untuk membangunkan harga diri anak agar ia tak minder. Caranya dengan menonjolkan kelebihan si anak sehingga dia tetap percaya diri.

Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah menjadi salah satu penyebab cadel. Kemampuan mengucapkan kata-kata, vokal dan konsonan secara sempurna sangat bergantung pada kematangan sistem saraf otak, terutama bagian yang mengatur koordinasi motorik otot-otot lidah. Untuk mengucapkan konsonan tertentu, seperti ‘R’, diperlukan manipulasi yang cukup kompleks antara lidah, langit-langit, dan bibir.

Cara mengatasinya, orang tua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan ucapan yang benar. Tetapi ingat, orang tua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa. Apalagi jika saat itu belum tiba waktu kematangannya untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya. Lakukan pula kerja sama dengan guru, sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih maksimal.

Cadel juga bisa disebabkan karena kelainan fisiologis. Namun cadel yang disebabkan oleh kelainan fisiologis jumlahnya sangat sedikit. Penyebabnya dibedakan menjadi tiga, yakni gangguan pada bagian pendengaran; gangguan pada otak; dan gangguan di wilayah mulut.

Adapun gangguan pada bagian pendengaran bisa berupa adanya kerusakan atau ketidaksempurnaan pada organ-organ yang terdapat di telinga, sehingga bisa mempengaruhi pendengaran. Akibatnya informasi yang diperoleh tidak lengkap sehingga berdampak pada daya tangkap dan tentunya juga mempengaruhi kemampuan berbicaranya.

Sementara itu gangguan pada otak kategorinya beragam. Di antaranya adalah perkembangan yang terlambat, atau karena penyakit yang diderita seperti radang selaput otak, atau kejang terus-menerus. Beragam gangguan ini dapat menyebabkan gangguan pada fungsi otak sehingga berdampak pada gangguan bicara. Salah satunya adalah cadel.

Sedangkan gangguan di wilayah mulut disebabkan adanya kelainan pada organ-organ di mulut (langit-langit, lidah, bibir, rahang, dan lain-lain). Misal, bibir sumbing, langit-langitnya terlalu tinggi, lidah yang terlalu pendek, rahang yang terlalu lebar, terlalu sempit, atau memiliki bentuk yang tidak proporsional. Namun umumnya kelainan pada organ mulut ini sangat jarang terjadi.

Kelainan fisiologis dapat diatasi, tergantung oleh berat ringan penyebabnya. Umumnya bila penyebabnya termasuk kategori berat, maksudnya penyakitnya tak dapat disembuhkan atau kelainan organnya tak dapat dikoreksi, maka bisa menjadi cadel yang menetap. Namun bila tergolong ringan, maka cadelnya tidak menetap.

Penyebab cadel lainnya adalah faktor lingkungan. Misal, karena meniru orang tuanya. Banyak orang tua yang menanggapi cadel anaknya dengan kecadelan pula. “Jangan naik pagel (pagar, Red).” Akibatnya malah bisa membuat anak jadi terkondisi untuk terus bicara cadel. Padahal saat anak belajar berbicara, ia bisa mengucapkan suatu kata tertentu karena meniru. Nah, kalau orang tua atau orang-orang yang berada di lingkungan terdekatnya berkata cadel, ia akan berpikir itulah yang benar. Jadilah ia cadel sungguhan.
Begitu juga jika ayah atau ibunya cadel (sungguhan). Kemungkinan anak tak pernah mendengar dan belajar bagaimana seharusnya mengucapkan konsonan tertentu. Cara mengatasinya, orang tua harus menghentikan kebiasaan berkata cadel dan melakukan koreksi. Amati dengan jeli. Contoh, bila hari ini bisa namun keesokan harinya tidak bisa, maka tugas orang tua segera mengoreksi dengan menyebutkan yang sebenarnya.

Mintalah kepada anak untuk mengulanginya beberapa kali. Namun, jangan memaksa. Berikan penghargaan bila ia kembali mampu mengucapkannya dengan baik. Jika orang tua memang cadel, mintalah orang-orang yang berada di lingkungan terdekat untuk memberikan stimulasi kepada anak.

Faktor psikologis juga bisa menyebabkan cadel. Contoh, untuk menarik perhatian orang tuanya karena kehadiran adik. Yang semula tidak cadel, tiba-tiba menjadi cadel karena mengikuti gaya berbicara adiknya. Cara mengatasinya, orang tua harus menunjukkan bahwa perhatian kepadanya tidak akan berkurang karena kehadiran adik. Selain itu, orang tua juga harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar, jangan malah menirukan pelafalan yang tidak tepat.

Demi menghindari timbulnya cadel, rajin-rajinlah memberikan stimulasi pengucapan yang benar. Paling lambat saat anak berusia dua tahun. Jangan gunakan bahasa dengan pengucapan yang cadel. Jangan mengganti bunyi “S” dengan “c” atau “R” dengan “I” dan lain-lain.

Jangan pula menghilangkan konsonan tertentu dalam berbicara. Ini kerap dilakukan tanpa disadari oleh orang dewasa dengan alasan memudahkan. Yang paling sering adalah konsonan “R”, semisal “pergi” jadi “pegi” atau “es krim” jadi “ekim”.

Cerita di Balik Huruf “R”

Di Jepang orang justru nggak bisa mengucap lafal L, mereka menggantinya dengan R. Dalam penulisannya-pun diganti, misal kita mo menulis Lani, karena tidak ada L, jadi menulisnya jadi Rani, atau saat mengucap Alun-Alun, jadi Arun-Arun. Kata senseiku orang Jepang kebanyakan makan Honda , hahaha….,( lho apa hubungannya ya…) Dan kebalikan dari Jepang , di China orang sulit mengucapkan huruf R, mereka justru selalu menggunakan huruf L. Senang sekali aku lahir di Indonesia yang bisa melafalkan semua huruf dengan benar.

Tapi R tidak seperti huruf-huruf A,B, C, D dan seterusnya. R begitu istimewa, karena untuk mengucapkan kata R butuh perjuangan. Segala sesuatu yang kita dapatkan dengan penuh perjuangan pasti akan memberi kesan tersendiri bukan? Demikian juga saat aku berusaha mengucapkan R ini, dan saat aku bisa mengucapkannya ada kepuasan tersendiri tentunya.

Sebenarnya banyak orang tua yang salah mengajari anaknya. Pernah aku perhatikan seorang ibu berbicara sama anaknya sengaja melafalkan R dengan L, nah ini bisa menjadi contoh bagi anak tersebut hingga terbawa sampai besar. So…, bagi yang sedang mengajari buah hatinya berbicara, gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Biar sang anak mencotohnya. Karena anak kecil itu mengikuti segala yang ia dengar. Mungkin banyak orang tua yang tidak menyadari hal ini.

Comments
  1. hasto wibowo says:

    saya cedal waktu lahir,,saya tidak berani berbicara dgn org yg baru kenal,,sampai usiaku 19thn
    gimana caranya supaya saya bisa dan percaya diri..tolong d jawab,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s