“PEMETAAN PIKIRAN / MIND MAPPING”

Posted: October 30, 2009 in article
Tags:

Radith and Berto bakalan ngomongin…

“PEMETAAN PIKIRAN / MIND MAPPING”

SCARY STORY

Suatu hari saya ikutan tatsqif, dengerin taujih ustadz. Seperti biasa, kalau orang bicara di depan tidak langsung ke inti meterinya, pake pengantar dulu, kenalan dulu, dsb. Pengantar di sebuah materi bisa dianalogikan dengan pemanasan di senam kesegaran jasmani, buat pembicara maupun pendengarnya. Buat kita-kita para pendengar, pemanasan ini juga bisa digunakan untuk menyiapkan peralatan mencatat.

Setelah pengantarnya selesai, Ustadz pun masuk ke dalam inti materinya. Beliau sudah akan menyebutkan poin-poin, tapi masih ada hal yang dirasa kurang pas, ”kok ga pada nyiapin peralatan? Pada bawa peralatan ga?”, begitu tanyanya. Secara implisit, sebenarnya ustadz ingin bertanya ”ngga pada mau nyatet nih?”. setelah ustadz bertanya demikian, Pak Mc pun berdiri dan dengan hebohnya menawarkan pulpen pada audiens.

Momen ini unik, soalnya baru pertama kali ada ustadz sampai negor begini (setelah bertahun-tahun jaman pengajian remaja di kampung dulu). Entah karena biasanya semuanya pada rajin nyatet dan baru pertama kali begini atau fenomena ikhwan jiping (ngaji kuping) baru pertama kali ustadz temukan di daerah sini.

Jaman memang sudah berubah, kebiasaan manusia juga berubah. Kalau dulu kita biasa mencatat dengan kertas dan pulpen, sekarang belum tentu. Beberapa mahasiswa saya lihat begitu sampai di acara, buka laptop, dan mulai ketak-ketik mencatat. Trend mahasiswapun berubah dari ”fotocopy oriented” jadi ”softcopy oriented”. Tidak usah mencatat, nanti di akhir acara tinggal sodorin flashdisk ke panitia, selesai.

Karena banyak kemudahan itu semakin malaslah kita mencatat. Belum lagi alasan lain seperti ”kalau fokus dengerin ngga bisa sambil nyatet”. Bah! Ustadz bahkan sampai bercerita, suatu hari setelah dia menyampaikan sebuah materi ada yang berkomentar ”yang tadi materinya bagus ustadz, kenapa ngga dibagi aja softcopy nya?”, ustadz jawab ”memangnya antum ngga dateng waktu xxx dan minta softcopynya?”, ”iya, dapet ustadz”, ”materi hari ini kan sama dengan yang waktu itu, cuma dikembangin sedikit”. ”Berarti apa?” tanya ustadz ke kami, ”habis minta softcopy dirumah juga ngga dibuka-buka lagi kan?” Nah lo..
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

KENAPA ORANG-ORANG MALAS MENCATAT????

kebiasaan mencatat atau bahasa kerennya ” membukukan peristiwa” menjadi hal yang tidak mengasikkan padahal ada peribahasa yang bilang:

”Ilmu itu bak binatang buruan, sedangkan tulisan itu adalah tali pengikatnya” (Imam Syafi’i)

Pena yang lemah lebih tajam dari ingatan yang kuat.

KENAPA HARUS MENCATAT ????

Secara sederhana, daya ingat terkait dengan persepsi, perhatian yang DIberikan (attention), dan proses berpikir atau memahami (reasoning).

Informasi yang diterima akan dikaitkan dan saling terhubung dengan informasi yang sebelumnya telah diketahui atau dialami. Dengan demikian, secara alamiah manusia memilih informasi apa yang disukainya untuk diingat dan informasi apa yang tidak ingin disimpan. Proses memanggil kembali informasi ini bergantung kuat pada asosiasi yang dibentuk. Semakin kuat asosiasi sebuah informasi akan semakin mudah diingat dan dipanggil kembali.

Di dalam proses KEHIDUPAN tentu tidak akan pernah luput dari masalah “pencatatan”. Pencatatan sangat berkaitan dengan ingatan, lebih khusus lagi pada proses recalling. Tidaklah berguna apabila kita mencatat sesuatu namun pada akhirnya kita tidak berhasil mengingat hal tersebut. Oleh karenanya dibutuhkan suatu metode pencatatan yang mampu meningkatkan kemampuan recalling kita.

Bertahun-tahun, hingga sekarang sebagian besar dari siswa kita diajarkan bagaimana mencatat dengan cara linear (dalam bentuk baris per baris), atau pada beberapa bahasa tertentu dengan kolom per kolom. Model pencatatan ini didasarkan pada asumsi tradisional tentang kerja otak kita, yang menyebutkan bahwa otak kita bekerja seperti garis linear, atau secara khusus Buzan (1989, h.90) menyebutnya sebagai list-like affair. Namun ternyata otak tidak bekerja dengan cara tersebut.

Otak tidak menyimpan informasi dalam bentuk baris-baris atau kolom-kolom yang rapi, namun menyimpannya dalam bentuk pola dan asosiasi (Dryden & Vos, 1999, h. 165). Oleh karenanya, apabila kita ingin mencatat sambil menghafal dengan lebih efektif, maka kita perlu bekerja sesuai dengan cara otak kita bekerja, yaitu dengan pola dan asosiasi. Otak kita memiliki prinsip kerja mentransfer data yang masuk menjadi lebih berarti.

Edelman (1992) menyatakan bahwa otak kita membentuk peta dari setiap aktivitasnya, baik yang berasal dari stimulus eksternal maupun dari persepsi. Diperkuat lagi dengan pernyataan Karl Pribram (seorang neurologist), bahwa cara otak memahami informasi melalui pola diskriminasi, bukan melalui daftar fakta-fakta. Hart (1975) menggambarkan pentingnya menyajikan materi pelajaran dalam pola urutan logis, sehingga siswa akan mudah untuk menyusun kembali bagian-bagian yang terpisah menjadi suatu kesatuan yang berarti.

Lebih jauh, Buzan (1989) menyebutkan bahwa setiap kata memiliki prinsip multi-ordinate, yaitu suatu prinsip dimana satu kata merupakan sebuah pusat dari beberapa tautan kata lain yang berhubungan. Dari penelitian Buzan ini, diketahui bahwa setiap kata selalu memiliki tautan asosiasi.

Setiap tautan asosiasi dapat didekatkan pada kata yang lain dan membentuk suatu pengertian yang berbeda. Selain itu, Buzan (1989) juga menyebutkan bahwa di dalam otak manusia jumlah tautan kata yang dibuat tidak terbatas. Setiap individu satu dengan yang lain akan memiliki pengalaman tautan kata yang berbeda-beda. Oleh karena prinsip di atas, Buzan kemudian, mengajukan suatu metode pencatatan dengan menggunakan keywords atau kata-kata kunci yang mempunyai arti individual, sehingga lebih menimbulkan makna bagi setiap individu.

Dari berbagai penelitian di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa otak kita akan lebih mudah bekerja dengan menggunakan mapping. Untuk itu di dalam proses pencatatan siswa juga disarankan mencatat dalam bentuk mapping, daripada dalam bentuk pencatatan linear. Selain itu, pada saat menggunakan peta pikiran, maka kita akan mencatat dengan mengaktifkan kedua belahan otak. Otak kiri, kita gunakan untuk membuat hubungan yang logis dari bahan yang kita catat, sementara otak kanan kita gunakan untuk membuat gambar, warna dan peta yang kita buat. Dengan mengaktifkan kedua belahan otak, maka tentu saja kita tidak hanya mencatat tetapi juga melakukan proses peningkatan kemampuan berpikir secara kreatif dan meningkatkan memori/ingatan.

Selain itu aspek emosi juga memegang peranan penting dalam daya ingat. Itu kenapa informasi yang memiliki aspek emosi akan lebih mudah diingat dan cenderung sulit dilupakan. misal coba diingat bagi yang sudah menikah ketika bertemu belahan hati yang sekarang sudah menjadi istri/suami? Masihkah bisa mengingat getaran-getaran asmara pada saat itu? MAKANYA SANGAT PENTING KITA UNTUK MEMETAKAN PIKIRAN / MIND MAPPING!!!!

APA ITU PEMETAAN PIKIRAN / MIND MAPPING ????

Pemetaan Pikiran (bahasa Inggris Mind Mapping) adalah yaitu suatu metode untuk memaksimalkan potensi pikiran manusia dengan menggunakan otak kanan dan otak kirinya secara simultan. Metode ini diperkenalkan oleh Tony Buzan pada tahun 1974, seorang ahli pengembangan potensi manusia dari Inggris.

Upaya Tony Buzan sebenarnya muncul dari pengamatannya dalam bidang perkembangan teknologi komputer pada tahun 1971. Tony Buzan berpikir, “kenapa komputer perlu manual pemakaian ribuan lembar untuk dapat beroperasi?” tetapi “Kenapa manusia sebagai makhluk berpikir bisa jauh lebih hebat. Tanpa manual manusia bisa melakukan rekayasa dan tindakan yang dahsyat, misalnya mengubah dunia?”. Perbedaan kemampuan antara komputer dan manusia itu Tony Buzan kemudian mengeksplorasi daya pikir manusia dengan merekayasa model pengembangan potensi manusia yang disebutnya Pemetaan Pikiran.

Pemetaan Pikiran saat ini sudah dikenal luas di berbagai bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM). Penerapannya mencakup manajemen organisasi, penulisan, pembelajaran, pengembangan diri, dll.

________________________________________________________________

Perbedaan Catatan Biasa dan Mind Maping

Catatan Biasa Peta Pikiran
1. hanya berupa tulisan-tulisan saja 1.  berupa tulisan, symbol dan gambar

 

2. hanya dalam satu warna 2.  berwarna-warni

 

3. untuk mereview ulang memerlukan waktu yang lama 3.  waktu yang diperlukan untuk belajar lebih cepat dan efektif
4.  waktu yang diperlukan untuk belajar lebih lama 4. untuk mereview ulang diperlukan waktu yang pendek
5. statis 5. membuat individu menjadi lebih
kreatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s