Radith ‘n Biyan Talk about “Memasukkan ORTU Ke Panti Jompo…MEMASUKAN ORANG TUA KE PANTI JOMPO, BENTUK PERHATIAN ATAU KETIDAK PERDULIAN?””

Thursday, July 2, 2009 at 8:17pm

Scary story…

Radit aNd Biyan Bakalan Ngobrolin tentang “PANTI JOMPO”

Sesuai siklus alami, manusia terlahir, tumbuh besar, berkembang biak, menjadi tua dan sakit, lalu mengalami mati. Sebagai mahluk sosial, tugas manusia bukan hanya untuk hidup dan berkembang biak, melainkan juga untuk membangun kehidupan yang beradab dalam masyarakat, terlebih lagi dalam agama, manusia ditunjuk sebagai pemimpin di dunia dan bertanggung jawab atas perannya itu terhadap Tuhan. Maka terbentuklah sistem sosial; pembagian peran dan tanggung jawab dalam masyarakat. Bayi dan anak-anak memerlukan waktu dan bantuan yang sangat banyak untuk belajar agar bisa hidup mandiri dan meneruskan peran orang dewasa, dilain pihak, orang tua berusaha keras menghidupi dan mendidik anak sambil berperan aktif dalam masyarakat. Ketika manusia memasuki usia lanjut, kesehatan tubuh perlahan menurun. Seringkali kemampuan fisik manusia lanjut usia (manula) menjadi sama lemahnya dengan seorang bayi.

“ Disaat kondisi orang tua kita sudah sangat tua, udah ga bisa mengurus rumah dan yg lain-lain, juga mulai sakit-sakitan. Kita sebagai anak pasti ingin mengurus ortu kamu, tapi kita adalah anak satu-satunya, menikah dan tinggal jauh dari orang tua,, disaat ingin meminta bantuan saudara untuk membantu menjaga, saudara kita mata duitan,, walaupun biayanya kita yg tanggung setiap bulannya”… di saat yg seperti ini, jalan satu-satunya untuk orang tua kita adalah panti jompo,, tempat dimana orang-orang tua ada yg merawatnya,,, tapi, apakah panti jompo adalah jalan yang terbaik?? Bagaimana perasaan orang tua kita??”Semoga kesadaran untuk peduli terhadap kaum manula bisa tumbuh berkembang dan kita akhirnya terbiasa memperdulikan mereka, agar pada masa senja, kaum lanjut usia ini tetap menikmati hidup dan merasakan perhatian serta kasih sayang.karena sesuai siklus alami, suatu saat nanti kita pun menjadi salah satu dari mereka.”
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

PENDAHULUAN

Di jaman modernisasi, hubungan orang muda dan orang tua semakin renggang. Kesibukan yang melanda kaum muda hampir menyita seluruh waktunya, sehingga mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk memikirkan orang tua. Kondisi seperti ini menyebabkan kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, kurangnya perhatian dan pemberian perawatan terhadap orang tua. Kondisi perkotaan yang berpacu untuk memperoleh kekuasaan dan kekayaan banyak menimbulkan rasa kecemasan, ketegangan, ketakutan, bagi penduduknya yang dapat menyebabkan penyakit mental. Kondisi perkotaan yang besifat individualisme menyebabkan kontak sosial menjadi longgar sehingga penduduk merasa tidak aman, kesepian dan ketakutan.

JAKARTA, KOMPAS.com — Saat ini pertumbuhan populasi warga lanjut usia/lansia di Indonesia sudah mencapai 20 juta jiwa. Sebanyak 2,7 juta lansia di antaranya kondisinya telantar dan 4,5 juta rawan telantar. Ini terjadi karena tidak adanya kepedulian terhadap keberadaan warga lansia.

Ada 20 juta lansia yang perlu kita perhatikan. “Artinya, harus ada ide-ide agar mereka bisa menghasilkan sesuatu dan tidak menjadi beban,” kata Menteri Sosial (Mensos) Bachtiar Chamsyah saat membuka South East Asian Countries Meeting on Active Ageing di Jakarta, Selasa (2/6).

Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu, maka beberapa masalah utama yang dihadapi lanjut usia pada umumnya adalah :

(1) Menurunnya daya tahan fisik

(2) Masa pensiun bagi lanjut usia yang dahulunya bekerja sebagai pegawai negeri sipil yang menyebabkan menurunya pendapatan dan hilangnya prestise

(3) Perkawinan anak sehingga anak hidup mandiri dan terpisah dari orang tua.

(4) Urbanisasi penduduk usia muda yang menyebabkan lanjut usia terlantar,

(5) Kurangnya dukungan dari keluarga lanjut usia

(6) Pola tempat tinggal lanjut usia; lanjut usia yang hidup di rumah sendiri, tinggal bersama dengan anak /menantu, dan tinggal di panti werdha. Dengan permasalahan yang komplek yang dialami oleh lanjut usia maka peneliti memilih permasalahan pengaruh faktor-faktor kondisi kesehatan, kondisi ekonomi dan kondisi sosial terhadap kemandirian orang lanjut usia.

Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup.

v  Pada tahun 1980 penduduk lanjut usia baru berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 persen dari seluruh jumlah penduduk.

v  Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen.

v  Jumlah ini meningkat di seluruh Indonesia menjadi 15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 persen dari seluruh penduduk.

v  Dan diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. Angka harapan hidup penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik  :

ü  pada tahun 1968 : 45,7   tahun

ü  pada tahun 1980 : 55.30 tahun

ü  pada tahun 1985 : 58,19 tahun

ü  pada tahun 1990 : 61,12 tahun

ü  Pada tahun 1995 : 60,05 tahun

ü  serta tahun 2000 : 64.05 tahun (BPS.2000)

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia akan membawa dampak terhadap sosial ekonomi baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pemerintah. Implikasi ekonomis yang penting dari peningkatan jumlah penduduk adalah peningkatan dalam ratio ketergantungan usia lanjut (old age ratio dependency). Setiap penduduk usia produktif akan menanggung semakin banyak penduduk usia lanjut. Wirakartakusuma dan Anwar (1994) memperkirakan angka ketergantungan usia lanjut pada tahun 1995 adalah 6,93% dan tahun 2015 menjadi 8,74% yang berarti bahwa pada tahun 1995 sebanyak 100 penduduk produktif harus menyokong 7 orang usia lanjut yang berumur 65 tahun ke atas sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 100 penduduk produktif harus menyokong 9 orang usia lanjut yang berumur 65 tahun ke atas. Ketergantungan lanjut usia disebabkan kondisi orang lanjut usia banyak mengalami kemunduran fisik maupun psikis, artinya mereka mengalami perkembangan dalam bentuk perubahan-perubahan yang mengarah pada perubahan yang negatif.

Secara umum kondisi fisik seseorang yang telah memasuki masa lanjut usia mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perubahan : (1) perubahan penampilan pada bagian wajah, tangan, dan kulit, (2) perubahan bagian dalam tubuh seperti sistem saraf : otak, isi perut : limpa, hati, (3) perubahan panca indra : penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan (4) perubahan motorik antara lain berkurangnya kekuatan, kecepatan dan belajarketerampilan baru. Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengarah pada kemunduruan kesehatan fisik dan psikis yang akhirnya akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari

Masalah umum yang dialami lanjut usia yang berhubungan dengan kesehatan fisik, yaitu rentannya terhadap berbagai penyakit , karena berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh dari luar. Menurut data SKRT (Survey Kesehatan Rumah Tangga) masih tinggi. SKRT tahun 1980 menunjukkan angka kesakitan penduduk usia 55 tahun ke atas sebesar 25,7 persen. BerdasarkanSKRT tahun 1986 angka kesakitan usia 55 tahun 15,1%, dan menurut SKRT 1995 angka kesakitan usia 45-59 sebesar 11,6 persen  ( Wirakartakusumah : 2000)

Dalam penelitian Profil Penduduk Usia Lanjut Di Kodya Ujung Pandang ditemukan bahwa lanjut usia menderita berbagai penyakit yang berhubungan dengan ketuaan antara lain diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner, rematik dan asma sehingga menyebabkan aktifitas bekerja terganggu (Ilyas : 1997). Demikian juga temuan studi yang dilakukan Lembaga Demografi Universitas Indonesia di Kabupaten Bogor tahun 1998, sekitar 74 persen lansia dinyatakan mengidap penyakit kronis. Tekanan darah tinggi adalah penyakit kronis yang banyak diderita lanjut usia, sehingga mereka tidak dapat melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari (Wirakartakusumah : 2000).

Penurunan kondisi fisik lanjut usia berpengaruh pada kondisi psikis. Dengan berubahnya penampilan, menurunnya fungsi panca indra menyebabkan lanjut usia merasa rendah diri, mudah tersinggung dan merasa tidak berguna lagi. Datangnya menopause bagi perempuan akan menimbulkan perasaan tidak berguna , karena mereka tidak dapat bereproduksi lagi. Inti dari kewanitaan adalah keberhasilan seorang wanita untuk mengisi peranannya sebagai seorang ibu dan Pada umumnya masalah kesepian adalah masalah psikologis yang paling banyak dialami lanjut usia. Beberapa penyebab kesepian antara lain

(1) longgarnya kegiatan dalam mengasuh anak-anak karena anak-anak sudah dewasa dan bersekolah tinggi sehingga tidak memerlukan penanganan yang terlampau rumit

(2) Berkurangnya teman/relasi akibat kurangnya aktifitas di luar rumah

(3) kurangnya aktifitas sehingga waktu luang bertambah banyak

(4) Meninggalnya pasangan hidup

(5) Anak-anak yang meninggalkan rumah karena menempuh pendidikan yang lebih tinggi, anak-anak yang meninggalkan rumah untuk bekerja

(6) Anak-anak telah dewasa dan membentuk keluarga sendiri. Beberapa masalah tersebut akan menimbulkan rasa kesepian lebih cepat bagi orang lanjut usia. Dari segi inilah lanjut usia mengalami masalah psikologis, yang banyak mempengaruhi kesehatan psikis, sehingga menyebabkan orang lanjut usia kurang mandiri.

Penduduk Jawa Tengah Menurut Table Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2006

Sumber:  http://jateng.bps.go.id/2006/

Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
40 – 44 1.201.490 1.238.272 2.439.762
45 – 49 1.023.567 1.105.464 2.129.031
50 – 54 952.392 852.590 1.804.982
55 – 59 630.469 598.568 1.229.037
60 – 64 515.630 573.449 1.089.079
65 – 69 391.771 479.573 871.344
70 – 74 323.897 387.059 710.956
75 + 335.735 363.165 698.900

 

 

 

 

 

 

tabel : 3.1.2 Penduduk Kabupaten/Kota  Magelang dan Kelompok Umur Tahun 2006 / Population of Jawa Tengah by Regency/City and Age Group 2006

Kelompok Umur (Tahun) Kab. Magelang Kota Magelang
0-14 285.736 27.962
15-64 771.872 90.644
65 + 95.626 11.346
Total 1 153 234 129 952

Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), BPS Provinsi Jawa Tengah / Source :  National Economic Survey, BPS-Statistics of Jawa Tengah Province

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Hari Lanjut Usia Nasional

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Hari Lanjut Usia Nasional (Hari Lansia) merupakan salah satu hari penting di Indonesia yang diperingati setiap 29 Mei sebagai wujud kepedulian dan penghargaan terhadap orang lanjut usia.Menurut Undang-Undang No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia, Lansia adalah orang yang telah berusia 60 tahun ke atas. Sebagai wujud dari penghargaan terhadap orang lanjut usia, pemerintah membentuk Komnas Lansia (Komisi Nasional Perlindungan Penduduk Lanjut Usia), dan merancang Rencana Aksi Nasional Lanjut Usia di bawah koordinasi kantor Menko Kesra. Komnas Lansia dibentuk berdasarkan Keppres Nomor 52 tahun 2004 dan bertugas sebagai koordinator usaha peningkatan kesejahteraan sosial orang lanjut usia di Indonesia. Pemerintah daerah memperingati Hari Lansia dengan kegiatan yang melibatkan orang lanjut usia, seperti acara senam bersama, berbagai perlombaan, dan penyerahan paket bantuan usia.

LANSIA MASA KINI DAN MENDATANG

Deputi I Menkokesra ”Kemajuan di bidang kesehatan, meningkatnya sosial ekonomi masyarakat dan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat yang bermuara dengan meningkatnya pada kesejahteraan rakyat akan meningkatkan usia harapan hidup sehingga menyebabkan jumlah penduduk Lanjut Usia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Jika pemerintah dan berbagai program pembangunan tidak mengantisipasi keadaan ini maka keberadaan Lanjut Usia akan menjadi bom waktu”.

Keadaan Lansia di Indonesia

Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia (aging struktured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,18%. Provinsi yang mempunyai jumlah penduduk Lanjut Usia (Lansia)nya sebanyak 7% adalah di pulau Jawa dan Bali. Peningkatan jumlah penduduk Lansia ini antara lain disebabkan antara lain karena 1) tingkat sosial ekonomi masyarakat yang meningkat, 2) kemajuan di bidang pelayanan kesehatan, dan 3) tingkat pengetahuan masyarakat yang meningkat.

Jumlah Penduduk Lansia Indonesia

Tahun Usia Harapan Hidup Jumlah Penduduk Lansia Prosentase
1980 52,2 tahun 7.998.543 5,45
1990 59,8 tahun 11.277.557 6,29
2000 64,5 tahun 14.439.967 7,18
2006 66,2 tahun +19 juta 8,90
2010 (prakiraan) 67,4 tahun +23,9 juta 9,77
2020 (prakiraan) 71,1 tahun +28,8 juta 11,3

Jumlah penduduk Lansia pada tahun 2006 sebesar kurang lebih 19 juta, usia harapan hidup 66,2 tahun, pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 23,9 juta (9,77%), usia harapan hidupnya 67,4 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%), dengan usia harapan hidup 71,1 tahun.

Dari jumlah tersebut, pada tahun 2010, jumlah penduduk Lansia yang tinggal di perkotaan sebesar 12.380.321 (9,58%) dan yang tinggal di perdesaan sebesar 15.612.232 (9,97%). Terdapat perbedaan yang cukup besar antara Lansia yang tinggal di perkotaan dan di perdesaan. Perbedaan ini bisa jadi karena antara lain Lansia yang tadinya berasal dari desa lebih memilih kembali ke desa di hari tuanya, dan mungkin juga bisa jadi karena penduduk perdesaan usia harapan hidupnya lebih besar karena tidak menghirup udara yang sudah berpolusi, tidak sering menghadapi hal-hal yang membuat mereka stress, lebih banyak tenteramnya ketimbang hari-hari tiada stress atau juga bisa jadi karena makanan yang dikonsumsi tidak terkontaminasi dengan pestisida sehingga membuat mereka tidak mudah terserang penyakit sehingga berumur panjang.

Namun jika dilihat pada tahun 2020 walaupun jumlah Lansia tetap mengalami kenaikan yaitu sebesar 28.822.879 (11,34%), ternyata jumlah Lansia yang tinggal di perkotaan lebih besar yaitu sebanyak 15.714.952 (11,20%) dibandingkan dengan yang tinggal di perdesaan yaitu sebesar 13.107.927 (11,51%).

Kecenderungan meningkatnya Lansia yang tinggal di perkotaan ini bisa jadi disebabkan bahwa tidak banyak perbedaan antara rural dan urban. Karena pemusatan penduduk di suatu wilayah dapat menyebabkan dan membentuk wilayah urban. Suatu contoh bahwa untuk membedakan wilayah rural dan urban di antara kota Jakarta dan Bekasi atau antara Surabaya dengan Sidoarjo serta kota-kota lainnya kelihatannya semakin tidak jelas. Oleh karena itu benarlah kata orang bahwa Pantura adalah kota terpanjang di dunia, tidak jelas perbatasan antara satu kota dengan kota lainnya.

Alasan lain mengapa pada tahun 2020 ada kecenderungan jumlah penduduk Lansia yang tinggal di perkotaan menjadi lebih banyak karena para remaja yang saat ini sudah banyak mengarah menuju kota, mereka itu nantinya sudah tidak tertarik kembali ke desa lagi, karena saudara, keluarga dan bahkan teman-teman tidak banyak lagi yang berada di desa. Sumber penghidupan dari pertanian sudah kurang menarik lagi bagi mereka, hal ini juga karena pada umumnya penduduk desa yang pergi mencari penghidupan di kota, pada umumnya tidak mempunyai lahan pertanian untuk digarap sebagai sumber penghidupan keluarganya.

Selain itu bahwa di masa depan sektor jasa mempunyai peran yang penting sebagai sumber penghidupan. Oleh karena itu suatu negara yang tidak mempunyai sumber daya alam yang cukup maka di era globalisasi akan beralih kepada sektor jasa sebagai sumber penghasilannya, contoh negara Singapura. Pada hal sektor jasa dapat berjalan dan hidup hanya di daerah perkotaan.

Lansia masa kini dan mendatang

Usia harapan hidup (UHH) tertinggi laki-laki adalah DKI Jakarta dan DIY, sedangkan terendah di Jawa Barat, sedangkan UHH perempuan tertinggi adalah adalah DKI Jakarta, dan terendah di Jawa Barat. Sedangkan jumlah penduduk Lansia tertinggi dan terendah baik laki-laki maupun perempuan adalah di Jawa Timur (tertinggi) dan Bali (terendah). Proses kematian Lansia di perkotaan disebabkan penuaan, sedangkan di perdesaan lebih banyak disebabkan oleh penyakit infeksi.

Dalam kaitannya dengan pemberdayaan, diupayakan agar Lansia dapat melaksanakan fungsi sosialnya serta berperan aktif dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu Lansia mempunyai kewajiban, antara lain 1) memberikan bimbingan dan nasehat yang didasarkan pengetahuan, keahlian, ketrampilan, dan kearifannya, 2) mentransformasikan dan mengamalkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya, dan 3) memberikan keteladanan. Hanya saja apakah dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya itu ada suatu forum yang dapat memfasilitasi ataukah hanya sebatas pada lingkungannya saja ?

Ada suatu cerita singkat yang menarik untuk diutarakan, dimana pada era pembangunan yang semakin dinamis dan tidak diikuti dengan meningkatnya kesempatan mengeyam pendidikan bagi kaum perempuan tersebut ternyata akan membawa dampak semakin menderitanya para eyang putri, mbah wedok, oma, opung, nenek, nyai dan entah apa lagi sebutannya. Dalam mengikuti dinamika pembangunan yang gegap gempita ini mereka semakin merasa kesepian. Mengapa….? Mereka itu pada masa tuanya tetap bermukim di desa/kampung yang nun jauh di sana, kurang bahkan tidak tersentuh dari kemajuan pembangunan di bidang pendidikan. Mereka tidak bisa baca tulis. Sedangkan disisi lain, saat ini para generasi mudanya untuk mendapatkan penghasilan yang layak harus ke luar dari kampungnya. Di desa/kampungnya mereka tidak dapat berbuat banyak kecuali kalau mereka ke luar dari desanya untuk mendapatkan pekerjaan. Sudah dapat dipastikan walaupun tidak mempunyai keterampilan yang memadai mereka tetap pergi ke kota untuk mengadu nasib mencari peruntungan. Tekad yang membara akhirnya mereka mendapat pekerjaan yang jauh dari desanya. Orang tuanya yang pada umumnya kurang bisa baca tulis tidak dapat berbuat banyak. Suatu hari sang ibu atau nenek tersebut mendapat surat dari anaknya yang sudah melanglang buana, diantara anak-anaknya ada yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri, sedangkan anak yang lainnya ada yang masih tetap tinggal dan bekerja di Indonesia, namun berada jauh di luar provinsi asalnya.
Surat yang diterima sang nenek tidak dapat dibaca, sehingga sang nenek tidak mengetahui isi surat itu. Akhirnya surat dari anaknya tetap tergeletak di ujung meja depan yang sudah lama tidak dibersihkan. Mengapa dalam cerita ini sang nenek ? Karena usia harapan hidup kaum perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan kaum laki-laki, sehingga banyak Lansia perempuan yang hidup sendirian karena ditinggal mati suaminya. Dalam kaitannya dengan pendidikan, menurut BPS pada tahun 2000 bahwa jumlah Lansia yang tidak pernah sekolah sebesar 38%. Sang nenek menurut cerita di atas adalah salah satu dari 38% sebagaimana dimaksud.

LANSIA DAN REFORMASI BIROKRASI

Indonesia jagonya mengeluarkan undang-undang

Kalau soal banding membanding lagi-lagi kita selalu yang berada di bawah. Misalnya soal Human Development Index (HDI), negara yang baru muncul saja seperti Vietnam sudah berada di atas Indonesia. Lantas bagaimana soal fasilitas terhadap penduduk Lanjut Usia (Lansia) ?
Peraturan perundang-undangan sudah segudang diterbitkan mulai yang mengatur tentang Kesehatan (UU 23/1992), mengatur tentang Kesejahteraan Lansia (UU 13/1998), mengatur Hak Azasi Manusia (UU 39/1999), dan yang mengatur tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU 40/2004).

Namun sejauhmana berbagai peraturan tersebut menyentuh soal Lansia ?
Banyak instansi terkait yang seharusnya secara khusus mengimplementasikan dalam bentuk peraturan pelaksanaan sesuai dengan tugas dan fungsi yang melekat dan menjadi tanggungjawab instansinya. Misalnya Departemen Perhubungan yang dapat memberikan fasilitas bagi Lansia untuk potongan harga pembayaran tiket pesawat terbang, kereta api, bus umum. Pemberian fasilitas ini dulu pernah diberikan untuk tiket pesawat (namun sekarang tidak ada lagi). Mungkinkah dilakukan pengaturan untuk pemotongan harga atau jika memungkinkan gratis untuk biaya transportasi umum dalam kota bagi Lansia ?
Bangsa Indonesia memang pintar membuat sloga-slogan, tetapi pada kenyataannya masih jauh dari harapan dan kenyataan. Misalnya ”Bangsa yang besar adalah yang menghormati para pahlawannya”, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, sopan, santun, berbudaya, dermawan dan entah sebutan apalagi. Mari kita bertanya pada diri sendiri, mana bukti pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selalu yang dijadikan alasan adalah payung hukumnya, namun jika mengamati secara jeli maka terdapat tumpang tindih dan ketidaksinkronan antara peraturan yang satu dengan yang lainnya dan bahkan setelah diterbitkannya peraturan perundangannya, peraturan pelaksanaannya tidak/belum terbit setelah sekian lama, sebagai contoh adalah pelaksanaan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Perbandingan Kesejahteraan Lansia di Korea Selatan

Untuk mengetahui tentang pelaksanaan kesejahteraan Lansia di negara Ginseng, Korea Selatan, beberapa anggota Komnas Lansia melakukan studi banding.
Kegiatan studi banding ini bertujuan mendapatkan sebanyak mungkin masukan dan bahan banding yang berkaitan dengan kebijakan, kelembagaan dan komisi yang berperan dalam penanganan Lansia.

Kebijakan tentang penanganan Lansia sudah sama-sama dipayungi dengan hukum baik di pemerintahan Korea Selatan maupun di Indonesia. Di Korea Selatan aplikasi kebijakan dapat dilihat dengan adanya pemberian fasilitas gratis bagi Lansia, jika yang bersangkutan naik public transportation (bus dan subway). Di kedua fasilitas umum tersebut disediakan tempat khusus bagi Lansia. Hal ini memungkinkan karena jumlah bus umum dan subway cukup banyak sehingga penumpangnya tidak berjubel seperti di Indonesia.

Lain lagi kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan kalau di Indonesia seperti Panti Sosialnya. Suatu panti sosial ”Senior Welfare Centre” di Kota Seoul sehari-harinya menampung sekitar 3.000 Lansia, dan dapat memberi makan gratis bagi 2.000 orang Lansia. Dalam Senior Welfare Centre tersebut dilengkapi dengan fasilitas olahraga, ruang untuk menonton televisi, perpustakaan, pelayanan kesehatan, ruang untuk belajar musik, menyanyi, melukis, komputer, dan ruang makan.

Dan tidak kalah pentingnya adalah ruang untuk mencari pekerjaan. Para Lansia di Korea Selatan setelah pensiun masih dapat dicarikan pekerjaan sesuai dengan bakat masing-masing. Luar Biasa.

Mungkinkah di Indonesia diberlakukan hak gratis bagi Lansia ?

Perbedaan mendasar yang dilihat adalah sifat, karakter dan kemauan yang kuat bagi masyarakat Korea Selatan yaitu sifat sopan, menghormati seniornya, orang tua, disiplin tinggi, yang di Indonesia sulit dijumpai sifat-sifat seperti itu.

Apapun yang terjadi seharusnya kita sudah dapat memulainya, karena payung hukum untuk itu sudah ada. Untuk itu pula perlu komitmen yang tinggi antara pemerintah, swasta dan masyarakat sipil untuk memulai, misalnya melakukan pemberdayaan terhadap Panti Sosial yang dimiliki pemerintah pusat atau pemerintah daerah.

Kelembagaan dan sumber dana

Apabila dilihat kelembagaan yang ada di Indonesia, sebenarnya sudah tepat Departemen Sosial yang melakukan pengelolaannya, namun dengan berlakunya otonomi daerah pelaksanaannya bisa jadi agak ruyam, karena belum tentu pemerintah daerah menaruh perhatian yang besar terhadap kesejahteraan Lansia. Setidak-tidaknya pemerintah pusat (Departemen Sosial bersama Komnas Lansia) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah DKI Jakarta untuk membuat pilot project di salah satu wilayah Jakarta atau kelima wilayah Jakarta. Mengapa di Jakarta, dengan alasan dapat lebih mudah dan cepat unsur pemerintah pusat memonitor perkembangannya.

Mengenai sumber dana yang dapat digunakan selain dari pemerintah adalah menggunakan dana pensiun yang ada pada Taspen, Asabri, Jamsostek dan Askes. Keputusan ini tidak mudah untuk disepakati, namun peluang untuk itu ada, oleh karena itu pembahasan bersama dengan berbagai pihak perlu dilakukan dengan segera. Siapa pemrakarsanya. Kepala Negara berdasarkan masukan dari Menko Kesra dan Menteri Sosial.
Reformasi Birokrasi

Sebagaimana telah diuraikan pada Bagian Kedua dari tulisan ini bahwa jika usia harapan hidup penduduk semakin meningkat, maka ada kecenderungan jumlah penduduk Lansia setiap tahunnya akan meningkat jumlahnya. Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk Lansia di Indonesia sekitar 23,9 juta jiwa (9,77% dari jumlah penduduk Indonesia).

http://www.menkokesra.go.id

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Kalau Panti Jompo merupakan pilihan terbaik

Sebenarnya saya sama sekali tidak pernah mempertimbangkan Panti Jompo sebagai sebuah pilihan, tapi dengan berbagai pertimbangan rasa-rasanya Panti Jompo merupakan pilihan yang terbaik. Ceritanya, dirumah saya di Cirebon ikut tinggal seorang paman yang usianya sudah lanjut >70-an tahun. Si paman sudah ikut tinggal bersama kami sejak 7-8 tahun yang lalu. Si paman sebenarnya merupakan saudara angkat ibu, namun beda bapak.

Paman ini dulunya bekerja sebagai penjaga toko, kebetulan kakek punya toko kelontong di Cirebon. Mungkin karena terbiasa hidup santai si paman memilih untuk tidak berkeluarga, juga tidak terbiasa untuk memiliki tabungan. Jadi diusia setua ini beliau ibaratnya tidak punya siapa-siapa lagi untuk bernaung selain kepada ibu. Padahal si paman masih punya saudara sekandung, yang sayangnya sudah tidak perduli, jangankan untuk peduli untuk dititipi barang paman saja saudara-saudaranya keberatan.

Nah sebagaimana orang hidup ‘menumpang’ lainnya, bahkan bersama mertua atau orang tua sendiri sekalipun. Namanya konflik sangat mungkin terjadi. Mulai dari permasalahan sepele seperti soal kebersihan hingga masalah finansial seputar siapa yang wajib membiayai kebutuhan si paman yang tidak kecil, mulai dari rokok hingga kopi setiap harinya.

Akhirnya diputuskan si Paman untuk tinggal disebuah kamar kost di kampung sebelah, kira-kira berjarak 10 menit dari rumah. Biaya yang dibutuhkan paman berbulannya adalah 500ribu (300rb untuk makan, 200rb untuk kost). Sedikit? tapi buat ibu yang sebentar lagi pensiun biaya ini dirasa cukup berat, terlebih kalau melihat faktor ekonomis, si Paman yang tinggal sendirian pun menjadi lebih beresiko dibandingkan tinggal bersama-sama dirumah Cirebon.

Moral of the story:
1. Keluarga biar bagaimanapun merupakan tempat bernaung paling akhir

Ya, si paman sebenarnya juga punya beberapa teman dan sahabat. Sayangnya banyak temannya sudah meninggal dan entah berada di mana. Pun dalam satu keluarga, pasti ada orang yang sangat perduli pada saudaranya sementara ada orang lain yang super cuek. Tapi begitulah, pastinya akan ada ‘pahlawan’ di keluarga tersebut yang mau tidak mau akan perduli.
2. Memilih Panti Jompo pun sebenarnya tidak mudah
Konon syaratnya asalkan si calon penghuni memang tidak punya keluarga lagi barulah ia bisa diterima di Panti Jompo. Tapi prakteknya ribet juga, sementara ini masih memilih untuk ditinggalkan di kamar kost kecil. Entah apakah mungkin bisa menempati Panti Jompo atau tidak
Mungkin ada cerita dan pengalaman lain seputar merawat orang tua? perlukah ke PantiJompo? dan apa tips-tips anda mengenai hal ini
http://priandoyo.wordpress.com/2008/12/22/kalau-panti-jompo-merupakan-pilihan-terbaik/

************************************************************************************

Plus-Minus Menitipkan Orangtua di Panti Jompo

MENITIPKAN orangtua di Panti Jompo, ada plus ada minusnya. Mereka bisa bergaul dengan orang seusianya. Namun, melupakan orangtua itu tulah. Yang penting siapkan anak secara baik. Jika disiapkan secara baik, kebaikan pula yang diperoleh orangtua.

Simak dialog interaktif Korang Tokoh di Radio Global FM 96.5 Mhz Minggu (22/10). Topiknya, ‘’Menghilangkan Stres di Kalangan Lansia’’ Berikut petikannya.

Merasa kurang Perhatian

Stres merupakan perasaan tertekan saat menghadapi permasalahan. Stres bukan penyakit, tapi bisa menjadi awal timbulnya penyakit mental atau fisik jika terlalu lama. Stres menimpa tiap orang. Tidak usah malu kalau mengalami stres. Ciri orang stres bisa dilihat dari caranya bicara. Masalah yang sama bisa memberikan stres dan beban yang berbeda pada orang berbeda. Hampir tidak ada ciri fisik pada orang stres, tapi bisa dilihat dari tekanan darah dan jantung. Lama mengalami stres bisa mempengaruhi sistem tubuh, misalnya menimbulkan sakit maag. Penyebab stres di kalangan lansia, beda dengan remaja dan anak-anak. Masalah yang paling sering menyebabkan stres pada lansia post power syndrom. Kehilangan jabatan bisa menjadi penyebab, perasaan kecewa karena tidak lagi dihormati seperti dulu, menyebakan perilakunya sering seperti anak kecil, ingin diperhatikan orang. Hubungan dalam keluarga, juga bisa menimbulkan stres.

Sering orang lansia merasa tidak diperhatikan lagi anak atau menantunya. Padahal dulu mereka selalu dekat dengan anak. Menghadapi situasi itu, orangtua itu harus cepat menyadari bahwa anaknya juga punya kesibukan dan kehidupan sendiri. Kiat mengatasi stress, dengan cara memandang permasalahn dari sudut pandang lebar, dari berbagai aspek, kemudian berusaha membuat kegiatan dan mencari kebanggaan di tempat lain. Tidak usah mengingat kebanggaan dulu. Dalam hubungan dengan anak dia harus menyadari anaknya sekarang memiliki kehidupan lain. Jangan menganggap diri paling benar, perhatikan pendapat orang lain. Anak muda pun bisa benar.

Drs. I Made Rustika M.Si. psikolog di Denpasar

Pelajari Agama

Secara psikologis, tidak ada salahnya dilakukan pendekatan spiritual dalam menghindari stres. Asal jangan terlalu memberatkan keluarga. Terkait catur asrama dalam konsep Hindu, memang saat grehasta orang menyiapkan diri masuk ke usia lanjut, mulai mempelajari masalah agama.

Anak bukan Tumpuan Hari Tua

Di masyarakat, banyak orang yang usianya 60-an masih giat beraktivitas. Saya dengan penyakit kanker, tetapi saya masih aktif bekerja. Untuk menghilangkan stres, saya punya kiat, salah satu adalah pasrah. Hidup ini milik Yang Kuasa. Sebagai orangtua saya berkewajiban menyiapkan anak-anak ke arah kehidupan yang lebih baik. Anggapan yang menyebutkan anak-anak tumpuan kita di hari tua, harus dihilangkan sebab mereka juga punya kehidupan sendiri. Kalau kita menyiapkan mereka dengan baik pasti baik juga kita peroleh.

Batasan Umur dan Psikologis

Umur 35 menjadi sulinggih, dari segi fungsi atau jabatan dia bisa dianggap seperti orang tua. Jadi ada batasan umur dan ada batasan psikologis. Kalau orang memandang diri tua walaupun baru 35 tahun, tentu perilakunya lain. Ini dipengaruhi, bagaimana kita melihat diri kita atau disebut konsep diri. Bisa saja umur 40, mengganggap diri masih 20-an, bergaulnya juga beda.

Siapkan Diri, tidak Kaget

Dalam tingkatan terukur, stres diperlukan untuk adaptasi kondisi untuk bisa melakoni kehidupan berikutnya. Stres wajar sebagai tanda kita punya jiwa dan emosi. Yang penting bagaimana kita mengendalikan diri dalam mengelola stres sehingga bisa eksis dalam pergaulan. Kiat mengatasi stres pada saat lansia: sebelum tua belajar memahami makna hidup ini sehingga bisa menyiapkan diri dan tidak kaget atau stres jika saat tua tiba. Pande, Pandak Gede

Plus-Minus di Panti Jompo

Secara psikologis, stres tidak apa, asalkan bisa keluar darinya. Malah akan lebih baik jika seseorang sudah terbiasa dari kecil menghadapi tekanan-tekanan dalam batas tertentu. Dia akan bisa mandiri, beda dengan anak yang sejak kecil biasa tergantung, dan segala kebutuhannya terpenuhi. Pelaku bunuh diri sebagian besar mereka yang daya tahannya terhadap tekanan begitu rapuh.
Secara ilmiah tidak ada perbedaan antara lansia wanita dan pria. Yang membedakan, masa lalu. Orang yang masa lalunya banyak kekecewaan, misalnya broken home akan terpengaruh masa tuanya. Masa lalu yang baik, harmonis, akan menjadi modal di masa tua. Soal panti jompo, plus minus lansia dititipkan di panti jompo. Bagi si anak, tidak repot, karena sudah ada yang mengurus. Menurut saya lebih banyak sisi negatif dari segi hubungan emosi dengan anak. Orangtua akan merasa diri dikucilkan, merasa dibuang. Perasaan dibuang ini akan berdampak kurang baik bagi kesehatan fisik. Kalau masih bisa jangan menitipkan orangtua di panti jompo.

Bergaul dengan Orang Seusianya

Kalau orang bersangkutan bisa mengelola stres, tentu akibatnya tidak berkepanjangan. Kadang orang sulit memahami apa sebetulnya kelebihan dirinya sebagai bekal kesibukan di hari tua. Kalau tidak memiliki kesibukan, penyakit yang kecil akan terasa besar dan terasa mengganggu. Pada usia tua akan banyak penyakit saling menghampiri. Soal panti jompo, di luar negeri sangat dicari para lansia. Di panti jompo mereka bisa bergaul dengan orang seusianya. Masyarakat Bali memang masih alergi terhadap panti jompo, karena menitipkan orangtua seakan-akan anak tak hirau lagi terhadap orangtuanya..
Antonius, Tabanan

Utang Anak pada Orangtua

Saya tidak sependapat menitipkan orangtua di panti jompo. Budaya Timur beda dengan Barat, apalagi di Bali. Pertama, masyarakat akan membicarakan anaknya, mengapa orangtua dibuang di panti jompo. Kalau dilihat peraktisnya memang praktis, tetapi dari aspek kasih sayang, orangtua tidak mendapat perhatian. Dalam konsep Bali, anak harus membayar utang kepada orangtuanya. Panti jompo di Bali ada aturannya. Yang boleh tinggal di sana orang yang benar-benar tidak terurus dan tidak ada yang peduli.
Rustika

’Broken Home’’ bisa ‘’Happy’’

Menurut Komnas Lansia, umur 60 tahun sudah masuk lansia. Jika orangtua dititipkan di panti jompo, alangkah tidak baiknya kita sebai anak. Untuk menghindari stres di hari tua, banyak kegiatan yang bisa dilakukan misalnya mageguritan, menanam anggrek. Saya kurang sependapat keluarga broken home dalam masa lansia yang tidak baik. Ada juga yang broken home, masa tuanya happy.

Masa Lalu sangat Berpengaruh

Hasil penelitian ilmiah menunjukkan masa lalu sangat berpengaruh terhadap masa tua seseorang. Sebagian besar, orang broken home cenderung di masa tua agak berbeda dalam melihat hidup. Memang ada juga yang berbahagia. Saya ingin menekankan, sebagian besar yang broken home, cenderung di masa tua agak bebrbeda dalam memandang hidup.

Melupakan Orangtua, ‘Tulah’

Bagi saya perkawinan adalah kewajiban dan pekerjaan, maka pekerjaan itu tuntaskanlah sampai akhir hayat. Bagaimanapun kita dilahirkan ke dunia, semua harus mengarungi kehidupan. Perlu pengeloaan stres. Saya mengharapkan stres berulang-ulang kali, sehingga mental saya makin kuat. Stres berdampingan dengan mentalitas manusia. Soal panti jompo, saya tdak sependapat dengan keberadaan panti jompo. Orangtua dulu bilang, kalau sampai anak melupakan orangtua, akan tulah.

Krisis Psiko Sosial

Pada masa tengah baya, 35-60 tahun, orang akan menghadapi krisis psiko sosial. Pada usia ini penting adanya renungan, apa yang sudah kita lakukan untuk masyarakat. Kalau belum, masih ada waktu untuk berbuat sesuatu sehingga mempunyai arti di hari tua. Saya setuju ada rumah sakit yang memberikan perhatian khusus pada lansia. Akan banyak sisi positif yang didapat para lansia.

Bahagia tanpa Keterikatan

Umur saya sudah hampir 70 tahun. Bagi saya stres sudah menjadi kebiasaan. Pada saat umur saya belum lansia, saya mempunyai kecintaan kepada anak-anak luar biasa besarnya. Setelah anak-anak saya berkeluarga, saya merasa ditinggalkan. Kenapa? Dulu tidak ada satu hari pun kegiatan saya tanpa anak-anak. Kini saya merasa sendiri, karena anak-anak tidak pernah mengajak saya pergi. Dalam kesendirian, bersama istri saya merenung. Saya teringat saat saya sudah beristri dan punya anak. Inilah hukuman. Dulu saya tidak pernah mengajak orangtua. Saya mengambil hikmah. Cinta tidak berarti harus memiliki. Kini yang paling penting bagi saya-anak-anak dan menantu saya bahagia. Yang penting bagaimana menikmati kebahagiaan tanpa keterikatan.
Pak Jodog

Cinta tidak harus Memiliki

Pengalaman Pak Jodog merupakan pengalaman pribadi yang cukup. menarik, dia bisa menerima, cinta tidak mesti harus memiliki. Tidak harus merasa cemburu kepada menantu, sehingga bisa menghindari stres.Dalam konsep Catur Asrama disebutkan pentingnya disadari fase-fase yang harus dipahami dan didalami sebagai modal dalam menghadapi tekanan hidup.

http://www.cybertokoh.com

**********************************************************************************

Layanan Seks untuk Penghuni Panti Jompo

Minggu, 10 Februari 2008 | 17:13 WIB

COPENHAGEN, SABTU – Tidak seperti di negara lainnya, para lansia penghuni panti jompo di Denmark mendapat kemudahan dalam menyalurkan hasrat seksualnya. Mereka akan dibantu oleh pihak pengelola panti untuk menghubungi layanan prostitusi.

Seperti dilaporkan suratkabar , Politiken, Jumat (8/2), kini banyak rumah panti jompo atau nursing home di Denmark yang tidak sungkan-sungkan untuk membantu para penghuninya dalam menghubungi layanan prostitusi. Fenomena tersebut terungkap lewat hasil sebuah survey yang dilakukan Organisasi Keperawatan Denmark. Survey menunjukkan bahwa praktik membantu lansia mendapatkan layanan seks sudah menjadi hal yang lumrah.
“Secara umum, pendekatakan yang kami lakukan adalah untuk membantu para lansia memenuhi kebutuhan seperti itu,” ungkap salah seorang perawat di sebuah panti jompo kawasan Charlottenlund, dekat kota Copenhagen..

Kemudahan para lansia untuk mendapat layanan tersebut tentu tidak sembarangan. Keputusan mengenai apakah staf atau pegawai panti boleh membantu para lansia berhubungan dengan pekerja seks komersil telah diatur oleh sebuah undang-undang pemerintahan kota setempat. Meskipun beberapa kota menerapkan kebijakan itu, namun Copenhagen sendiri tidak memberlakukannya sejak 2006 karena dewan kota telah mengadopsi sebuah program untuk memerangi prostitusi.

Sementara itu seorang seksolog yang sebelumnya pernah menjadi kepala panti jompo dan kini bekerja sebagai pensehat pekerja kesehatan, Judith Rosenkrantz, mengatakan bahwa kebutuhan para lansia penghuni panti memang harus dipertimbangkan. Apalagi di antara para lansia, kebanyakan adalah pria tua yang menderita demensia.

Jika para lanisa tidak mendapatkan saluran seksualitas, dia bisa menjadi lebih agresif dan menyerang para pegawai panti ,” ungkap Rosenkrantz.

Ia menjelaskan pula, kebutuhan utama para pria lansia ini seringkali hanya terbatas pada kontak fisik, seperti berpelukan atau membantu masturbasi dan bukannya hubungan seksual yang sebenarnya.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/02/10/17130323/layanan.seks.untuk.penghuni.panti.jompo

************************************************************************************

Penghuni Panti Jompo Hidup Memprihatinkan

Rabu, 2008 Februari 27

Puluhan penghuni Panti Sosial Tresnawerda, Kota Parepare, Sulsel, hidup dalam kondisi yang sangat meprihatinkan. Minimnya layanan kesehatan serta fasilitas hidup lainnya, menyebabkan para Orang Tua Jompo yang menjadi penghuni panti tersebut menjalani hari-hari yang suram.

Minimnya Fasilitas hidup, seperti layanan kesehatan dan kebersihan serta gizi, menyebabkan puluhan penghuni Panti Jompo Tresnawerda, Kota Parepare, Sulsel, hidup dalam kondisi memprihatinkan.

Selain terpisah jauh dari keluarga, Para Manusia Lanjut Usia (Manula) tersebut mengaku pasra menjalani hari tua dengan kondisi seperti ini. Pak Telo Misalnya. Menurut, Lelaki lanjut usia ini, sudah tujuh tahun lebih ia menghabiskan hari tuanya di Panti Jompo.

Entah karena alasan apa, Keluarga Pak Telo mengirimnya ke Panti Sosial Tersnawerda Mappakasunggu. Padahal Pak Telo berharap dapat menjali hari tuanya di tengah-tengah keluarga tercinta.

Di Panti sosial ini Pak Telo mengaku menjalani hidup yang sulit. “Sudah tujuh tahun saya tinggal di Panti ini. Selama itu, Nasi putih dan Ikan Kering menjadi menu makanan yang tidak asing lagi. Belum lagi fasilitas hidup lainnya yang sangat minim. Beberapa penghuni lainnya hanya tidur beralaskan lantai atau dipan kayu. Sementara banyak kasur busa yang diperuntukkan bagi kami hanya tersimpan di gudang,” ungkap Telo dengan mimik sedih.

Entah karena alasan apa, Pihak Pengelola menyimpan begitu banyak kasur busa digudang. Padahal para penghuni Panti sangat membutuhkan fasilitas tersebut.

Selain Fasilitas hidup seperti minimnya makanan bergizi dan layanan kesehatan yang kurang, faktor kebersihan juga menjadi kendala tersendiri bagi para penghuni panti. Pihak pengelola seperti menutup mata akan hal itu.

Bagaimana tidak, banyak ruang tidur atau kamar yang setiap hari digunakan para penghuni panti kondisi kebersihannya sangat jauh dari pola hidup sehat. Kotoran tersebar dimana-mana. Terlebih lagi kondisi WCnya yang sangat jorok. Padahal para penghuni Panti sangat rentan terjangkit penyakit.

Sementara itu, saat dikonformasi, Pihak Pengelola Panti enggan berkomentar. “Saya tidak bisa memberikan komentar,” ungkap salah seorang Staf Panti Sosial tanpa menyebutkan identitasnya.
Diposkan oleh Tentang PIJAR

http://www.pijarcommunity.blogspot.com

Disaat kita sudah tidak mampu lagi mengurus orang tua kita yang sudah lanjut usia,, Panti jompo mungkin salah satu jalan keluarnya,, kerabat muda,, “.
MEMASUKAN ORANG TUA KE PANTI JOMPO, BENTUK PERHATIAN ATAU KETIDAK PERDULIAN?” ikutan comment yuk,with RADITH N BIYAN… by sms 0857 4338 8876. phone (0293)325090)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s